Perkara Suguh Menyuguh

Posted on June 1, 2012

0


Saya orang Jawa, tapi dalam beberapa hal saya kagok banget menghadapi budaya Jawa. Salah satu contoh yang teramat sering membuat saya bingung adalah soal suguh menyuguhkan makanan kecil sewaktu ada tamu atau kenalan datang berkunjung.

Kalau ada kenalan datang berkunjung, sudah patut dan selayaknya seorang tuan rumah akan menghidangkan atau menyuguhkan apapun yang saat itu dipunyainya. Nah, kalau sudah disuguhkan, tentunya harapan sang tuan rumah adalah makanan dan minuman kecil itu akan dihabiskan oleh sang tamu. Setidaknya, kalau tuan rumahnya adalah saya, saya akan mengharapkan seperti itu. Kenapa? Ya karena tindakan memakan atau meminum apapun yang saya hidangkan adalah salah satu tata krama yang saya anggap sopan. Nah, apakah budaya Jawa seperti itu? Saya juga kurang tahu, karena ternyata ada saja tamu atau bahkan kenalan dekat yang menolak setengah modar semua makanan atau minuman yang disajikan kepadanya.

Apakah mereka justru menganggap itu sebagai tindakan yang sopan? Hmm, kalau saya mah itu justru membuat ribet dan repot sang tuan rumah. Sudah payah-payah menyuguhkan, eh, disentuh aja enggak sama tamunya. Buset!

Karena berpandangan bahwa cara menghormati tuan rumah adalah memakan semua yang disajikan kepada saya, sejauh ini saya selalu melahap sampai tandas semua pemberian dari tuan rumah. Saya pikir, kalau saya gak makan, kasian yang sudah menyuguhkan, ya tho? Kalau saya makan cuma separo atau sedikiit aja, malah tambah kasian lagi tuan rumahnya. Coba, puding atau kue yang cuwil seperempat itu terus mau diapakan setelah saya pulang? Masak mau diuntal (=ditelan) sama tuan rumah atau anaknya? Kan ya njijiki ya tho? Lha terus kan akhirnya tidak ada pilihan lain kecuali dibuang. Kan ya sayang sekali kue masih enak harus berakhir di keranjang sampah.

Paling senang kalau sedang ulang tahun terus kan bawa kue-kue ke kantor tuh? Nah, saya paling terkesan ultah saya ke 44. Waktu itu saya bawa kue brownies. Setelah dibagi-bagi, ternyata masih ada beberapa potong tersisa. Sorenya, saya senang sekali waktu mengundang mentee saya si anak manajemen itu untuk ikut memakan kue itu. Dia datang dengan temannya dan mereka nampak sekali menikmati kue tersebut. Lebih senang lagi waktu rekan kerja saya memberitakan kue itu akhirnya habis karena dibagi ke teman-teman yang lain. Hmm, puas rasanya. . .

Paling sedih kalau kebetulan ada kolega datang ke kantor kemudian saya tawari makan snack saya, entah wafer atau biskuit, dan mereka menolak. Biarpun menolaknya dengan sangat sopan, tetap aja dalam hati saya membatin: “Mbok ambil barang satu atau dua biji napa seh?? Gak gak lek mati atau tambah gendut. Huh >.<"

Posted in: Uncategorized