Pemimpin Bervirus Menular

Posted on May 31, 2012

0


Pemimpin Bervirus Menular

Ketika masih bekerja di Surabaya, saya pernah terkesan sekali dengan ungkapan bijak ini tentang kepemimpinan: seorang pemimpin yang baik hanya perlu hadir di tengah anak buahnya tanpa banyak bicara, dan beberapa lama kemudian ikut bergembira ketika anak buahnya bersorak ‘horee! Kita berhasil!’.

Ungkapan metaforis itu jelas sekali pesannya: seorang pemimpin sejati mampu memberi inspirasi bagi anak buahnya untuk berkembang dan meraih suksesnya. Ibarat seorang bervirus menular, pemimpin jenis ini menularkan virusnya secara diam-diam, minim perintah atau bahkan komando membentak-bentak, namun figurnya mampu memacu semangat untuk maju dan berprestasi gemilang.

Sepanjang pertengahan tahun lalu saya dengan agak bersusah payah mencoba menghimbau dan mengajak rekan-rekan saya di prodi saya untuk berpartisipasi dalam seminar-seminar di dalam maupun di luar negeri. Semua undangan seminar dari lembaga luar saya forwardkan ke mereka; dalam rapat-rapat saya sering mengulang-ulang ajakan itu. ‘Ayo, Bapak Ibu sekalian, kirim paper dan presentasi ke seminar-seminar, jangan hanya saya doang yang selama ini rajin presentasi paper di seminar.’

Himbauan itu nyaris tak bersambut. Semua rekan saya rupanya lebih senang duduk diam dan manis di kantornya masing-masing. Akhirnya saya memilih agak diam, dan sebagai gantinya saya terbang kesana kemari presentasi paper, di Semarang, di Cambodia, di Thailand, di Hong Kong.

Sampai akhirnya suatu pagi seorang rekan mengirim email memberitakan bahwa papernya diterima untuk suatu seminar internasional. Belum selesai saya bergembira menyambut berita itu, datang lagi rekan lain mengatakan bahwa papernya juga diterima di seminar di luar kota. Lalu esok harinya datang lagi berita dari rekan yang lain mengabarkan hal yang sama.

Oouww yeaaah!!! Saya senang sekalii! Rupanya diam-diam mereka membiarkan dirinya ketularan virus yang saya idap sejak lama dan akhirnya sekarang mereka juga mulai merintis upayanya mengasah kemampuan akademisnya di berbagai ajang seminar. Ini benar-benar yang sudah saya harapkan sejak lama ketika menjabat sebagai dekan di fakultas ini. Saya mengukur keberhasilan saya sebagai pemimpin dari perkembangan anak buah saya. Saya tidak suka tipe one-man show. Saya lebih suka prinsip TEAM: Together Everyone Achieves More. Kalau saya menjadi lumayan cakap dalam presentasi paper ilmiah di berbagai seminar, saya juga ingin anak buah saya berprestasi yang sama.

Saya tidak tahu persisnya apakah mereka menjadi berupaya lebih keras seperti itu karena himbauan lisan saya, atau terinspirasi oleh rajinnya saya presentasi paper di luar, ataukah kedua-duanya. Apapun itu, saya merasa bangga dan berbesar hati melihat mereka menjadi lebih berkembang.

Hari ini saya pasang banyak status di FB saya dan di wall beberapa friends. Semuanya bernada ceria karena saya memang sedang happy. Tapi mungkin status saya di FB yang satu ini yang paling mewakili gegap gempitanya perasaan saya: ‘Menteeku lulus ujian skripsi. Mantan mahasiswiku mulai pacaran. Kolega2ku mendapat momongan baru. Dosen2ku presentasi seminar dimana-mana. Life is beautiful, people!’

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized