Bee Gees dan Rasa Campur

Posted on May 29, 2012

0


Judulnya memang kayak gitu karena sejatinya itu mewakili apa yang saya rasakan hari ini: gak bisa didefinisikan. Seneng ndak, sedih ya ndak, murung ndak, bersemangat ya endak, nglokro ya endak. Ya udah, campur-campur aja, wis, embuh . . . .

Sedari tadi saya melihat lagu-lagu kenangannya Bee Gees. Pertama, karena sebenarnya dunia musik dan pencinta musik sedang berkabung setelah personel grup itu, Robin Gibb, berpulang minggu lalu. Kedua, karena setelah membaca semua tentang Robin Gibb dan Bee Gees, saya jadi teringat kembali lagu-lagu lama mereka tahun awal 1970 an. Maka tak ayal lagi saya cari semua di Youtube dan ketemulah lagu-lagu manis seperti “Melody Affair” dan “In the Morning”. Lagu-lagu ini menemani masa kecil saya dulu ketika usia masih juga belum genap 10 tahunan, sampai sepupu saya yang sudah mahasiswa merasa heran, wong anak kecil kok suka lagu Bee Gees, bukannya “Burung Kakak Tua” atau “Bintang Kecil”.

Anggota yang namanya Robin Gibb ini memang paling menarik perhatian. Dengan bentuk mulutnya yang khas, agak sedikit mrongos, dan matanya yang seperti itu, dia adalah anggota yang gayanya paling enak dilihat, terutama ketika masih kecil. Saya tertegun melihat penampilannya ketika dia masih kanak-kanak, menyanyi lagu “Blowing in the Wind” dan “Please Please Me” nya the Beatles yang kala itu juga sedang ngetop. Lucu, spontan, dengan goyangan kepalanya yang khas dan giginya yang agak tonggos itu. Tidak berlebihan kalau seorang penggemarnya di Youtube menulis: “Robin is one lovely soul”.

Robn Gibb terkenal sekali dengan lagu “I Started A Joke”. Itu suara dia. Dan itu lagu populer sekali, sekali lagi dengan lirik sederhana namun menggugah kesadaran pendengarnya akan sesuatu yang bermakna.

Bee Gees berevolusi juga, sesuai dengan perkembangan jaman. Akhir dekade 1970 an mereka merubah warna musiknya menjadi disko, selaras dengan perkembangan selera musik. Disini Barry Gibb (yang tertua) merubah suaranya menjadi falsetto, sehingga kalau kita mendengarkan lagu “Staying Alive” dan sejenisnya, kita akan mendengar suara yang berbeda dibanding suara vokalnya di tahun 1970 an. Lalu tahun 1990 an (setelah konflik antar ego) mereka kembali menyanyi dan sekarang lagu-lagunya menjadi lebih pop. Coba dengarkan “This Is Where I Came In” dan “Alone”; suara falsettonya Barry masih kelihatan, tapi musiknya sudah bukan lagi disko.

Di tengah seru-serunya bernostalgia dengan Bee Gees, muncul sepucuk surat menggegerkan di email: seorang rekan dari manca negara mau mengundurkan diri! Yiaaah, agak gonjang-ganjing lah sesaat. Kenapa kok dia mengundurkan diri? Sial, dia tidak menyebutkan alasannya.

Hmm, oke, kalau dah mau mundur ya mau diapakan lagi? Mungkin gak cocok dengan pandangan-pandangan kami disini atau gaya kerja kami, atau masalah komunikasi. Sekarang saya harus memikirkan pengganti posisinya yang cukup vital di Fakultas. Hmm, siapa ya?

Tertarik melamar? Jabatannya cukup keren: ketua program studi.

Posted in: Uncategorized