Gaya Membimbing Skripsi part 2

Posted on May 28, 2012

0


Jaman edan seperti ini gaya membimbing skripsi juga harus edan. Kalau dulu ketika saya masih S1, memang sudah ada komputer, namun belum ada yang namanya Internet atau e-mail. Jadi, kalau saya mau skripsi saya dikoreksi oleh dosen pembimbing saya, saya harus mem print out naskahnya, kemudian membawanya ke kantor dosen-dosen saya dan menyerahkan hard copynya ke para beliau. Jadi satu judul skripsi saja bisa habis dua rim kertas, bahkan lebih.

Nah, kalau sekarang, saya bisa meminta mahasiswa saya untuk mengirim soft copynya ke email saya dalam bentuk MS-Word. Lalu, saya pakai fasilitas “New Comment” dan “Track Changes” untuk mengoreksi naskahnya itu. Dengan fasilitas canggih di MS-Word itu, saya bisa menambahkan komentar pada draftnya, dan–kalau rasa ibanya kumat–saya bisa langsung membetulkan kesalahan-kesalahan kecilnya. Nanti, begitu naskah itu dia terima kembali di e-mailnya, dia tinggal membetulkan beberapa bagian yang saya beri “Comments”, dan tinggal meng klik “Accept All Changes” untuk menerima semua pembetulan saya. Langsung naskahnya bzzzztttt. . . . rapi kembali tanpa coretan.

Nah, suatu ketika seorang mahasiswi masih memerlukan untuk bertanya apakah saya ingin dia mengirim naskah soft copy atau hard copy setiap kali konsultasi dengan saya. Dengan heran saya jawab: “Ya, soft copy aja; kan sudah ada Internet dan MS-Word yang canggih itu?”. Dia kemudian mengatakan: “Wah, kalau begitu hanya Bapak saja yang punya gaya seperti ini. Kalau dosen-dosen lain masih ingin saya menyerahkan hard copynya.”

Gantian saya yang heran. Hari gini kok masih ada dosen ndak canggih blas kayak gitu ya? Bukannya kalau memaksa mahasiswa menyerahkan hard copy artinya memboroskan kertas dan tinta printer? Kan kasihan mahasiswanya harus mencetak di atas kertas dan memboroskan tinta printernya? Gak go green bener nih dosen:(

Mungkin karena bekerja lewat soft copy dibantu dengan software canggih, kerja saya memeriksa naskah skripsi jadi lumayan cepat. Seorang mahasiswi pernah mengeluh karenanya. Dia bilang sama temannya: “Lha mosok, pagi jam 10 aku kirim e-mail ke dia, terus aku shopping sampai jam 3 an. Eh, begitu sampai di rumah dan ngecek email, aku lihat draft skripsiku udah dikembalikan oleh dia, udah dikoreksi sana-sini. Lha kalau gini kapan aku ngasonya??”. Ha ha haaa! Kapok kon! Siapa suruh milih saya jadi pembimbing, ha ha haaa!

Posted in: Uncategorized