Membimbing Skripsi: Antara Yang Cantik dan Yang Biasa Aja

Posted on May 27, 2012

0


Di sebuah PTS tempat saya pernah bekerja pernah terjadi suatu kasus yang agak memalukan. Seorang dosen pria, sebut saja Pak X, dirasani oleh ketua jurusannya, seorang wanita, bahwa dosen tersebut suka membeda-bedakan mahasiswi yang datang konsultasi tesis. Menurut si ibu ini (sebut saja Bu Y), kalau mahasiswinya cantik, Pak X cenderung lebih ramah dan lebih membantu daripada kalau mahasiswinya tidak cantik. Dari mana laporan ini berasal? Ya dari para mahasiswi yang merasa tidak cantik tersebut.

Saya prihatin mendengar cerita itu. Apakah saya prihatin karena ulah Pak X? Bukaaan! Sama sekali bukan! Saya justru tidak nyaman mendengar sang kajur melontarkan rerasan itu, apalagi ketika tahu bahwa sumbernya dari beberapa mahasiswi yang, maaf, tidak cantik.

Lho kenapa saya justru sebal melihat rerasan mereka? Ya, iyalah, coba pikir, apa Bu Y sudah pernah meneliti lebih dalam kasus-kasus yang dilaporkan itu? Kan seharusnya dia tidak menelan begitu saja laporan dari beberapa mahasiswi yang kurang good-looking tentang perlakuan seorang dosen terhadap beberapa temannya yang lebih cantik? Bagaimana kalau ternyata mahasiswi-mahasiswi yang cantik ini memang lebih pintar, lebih bersemangat, dan lebih mudah diarahkan daripada mahasiswi-mahasiswi yang kurang cantik? Bagaimana kalau ternyata para mahasiswi kurang cantik itu memang lebih lambat, lebih malas, dan tidak sepintar rekan-rekannya? Ya jelas saja setiap dosen manapun pasti akan terkesan lebih “kejam” terhadap mahasiswi-mahasiswi seperti ini, bukan semata-mata memang mau bersikap diskriminatif karena penampilan mereka yang memang berbeda.

Sangat disayangkan sang kajur itu—yang ternyata juga bukan tergolong wanita good-looking—begitu saja melontarkan rerasan itu di kalangan para koleganya. Akibatnya nama Pak X jadi cemar, padahal yang bersangkutan juga belum tentu bersikap diskriminatif seperti itu.

Makanya, kalau memang merasa tidak cantik, sudahlah ndak usah bikin gosip segala macam. Kalau tahu bahwa teman-teman Anda kebetulan cantik dan kalian mendapat dosen pembimbing yang sama, ya tentunya harus menunjukan sikap semangat, kerja keras menyelesaikan tesis, dan mengikuti arahan sang dosen.

Atau memang sudah bawaan wanita ya, merasa sirik kalau melihat sesama jenisnya punya keindahan ragawi yang lebih daripada dirinya. Kajur gak cantik berkonspirasi dengan mahasiswi gak cantik untuk menjatuhkan reputasi dosen pria dan mahasiswi-mahasiswi cantik, ha ha haa! Ketawa tapi getir….

Peristiwa itu masih saya ingat dan tanpa sadar membuat saya berusaha untuk bersikap sangat merata kepada semua mahasiswi yang kebetulan berada di bawah bimbingan saya. Apapun penampilan dan wajahnya, setiap mahasiswa yang menjadi anak bimbing saya akan mendapat pertanyaan yang sama dari saya: “Ada masalah di semester ini? Kuliahmu bagaimana? Semua lancar? Gak ada kesulitan?”. Begitu mereka mulai bercerita, saya akan mendengarkan dengan sama intensnya, ndak perduli rupanya seperti bintang film Taiwan atau biasa-biasa saja.

Mahasiswi skripsi sama aja. Kalau satunya saya ajak guyon, yang satunya juga saya ajak guyon. Kalau mereka bikin salah di draftnya, ya saya corat-coret, ndak perduli wajahnya kayak apa. Semua mahasiswi bimbingan saya, ndak perduli wajahnya kayak gimana, pasti ingat bahwa saya tidak segan-segan meminjamkan buku metode penelitian atau bahkan sumber data untuk tesis mereka. Demikian juga kalau ujian proposal atau skripsi. Ndak perduli tampangnya bak artis Hong Kong atau ndak, kalau jawabannya jelek ya tetap aja saya kasih nilai rendah.

Lho terus mahasiswanya mana? Ya itulah, mahasiswa mah kayaknya ogah saya bimbing, mereka lebih suka cari pembimbing ibu-ibu. Ya sudah, ndak papa juga.

Posted in: Uncategorized