Gaya Saya Membimbing Skripsi

Posted on May 23, 2012

3


Mahasiswa itu pasti sudah capek dan stress ketika menulis skripsi, ya tho? Jadi ya kalau membimbing skripsi saya punya gaya tersendiri yang membuat mereka tidak takut , tapi juga tetap fokus dan tetap berjuang untuk menghasilkan yang terbaik. Ada lho dosen yang sok “killer’, sok sulit ketika membimbing skripsi atau tesis, sehingga bimbingannya merasa stress berat. Kebalikannya, ada yang cul-culan (bahasa Jawa, artinya “lepas sak lepas-lepasnya”), sehingga mahasiswa bimbingannya nggak tahu apakah skripsinya sudah bener atau masih ndak karuan. Tahu-tahu disuruh ujian gitu aja, dan celakanya ketika ujian mahasiswa itu habis dibantai oleh dosen penguji, sementara sang dosen pembimbing hanya mesam-mesem saja. Wah, celaka benar!

Semester ini saya membimbing dua orang mahasiswi. Yang satunya mau segera lulus, padahal proposal aja belum seminar. Maka terpaksa saya berikan pil pahit tapi mujarab kepadanya: “kamu harus kerja keras; nulis non-stop seharian, kirim ke saya via email, dan langsung kamu revisi lagi setelah saya kirim balik.” Itupun masih saya tambahi omelan: “Salahmu dewe kok baru nulis sekarang! Udah tahu bulan depan yudisium kok masih santai-santai aja!”

Untungnya anak ini termasuk yang nurut kalau sudah dipecut kayak gitu. Dia menulis proposalnya dalam waktu relatif cepat, dan langsung ngirim soft copynya ke e-mail saya. Karena saya kerjanya juga super kilat (lha ya iyalah, wong profesor kok), skripsi itu langsung saya uncalkan kembali ke emailnya hanya dalam waktu kurang dari dua jam. Nah, Jumat besok dia udah mau maju proposal.

Satu ketika dia bertanya tentang satu kalimat yang saya koreksi, padahal menurut dia sudah benar. “Pembimbing 2 juga bilang kalimat ini benar kok, Pak,” katanya. Langsung saya tunjukkan kesalahan kalimat itu. “Nih, salahnya kayak gini nih. Kan menyolok sekali toh?? Napa kamu bisa salah di hal sepele kayak gini? Pembimbing 2 mu itu pisan, wong jelas kalimat salah kok dibilang “benar”; ntar saya suruh balik kuliah S1 lagi kapok kon.”

Sampai disini kontan si mahasiswi itu kaget, terus ngakak. Mungkin dia ndak menyangka saya mengujarkan kalimat yang terakhir itu. Saya pun ikutan ngakak. Saya suka membuat suasana yang seolah serius namun tiba-tiba berubah jadi konyol dan memancing tawa. Itu membuat suasana konsultasi skripsi menjadi segar, ndak menegangkan.

Mahasisiwi kedua menulis tentang Nazi. Suatu ketika, saya nulis di wall FB nya: “Kamu tahu ndak kenapa Hitler marah besar dan akhirnya menjerumuskan dunia ke Perang Dunia II?”. Biyuh, dia menjawabnya dengan berbekal teori dan kilas sejarah lengkap. Saya balas: “Wah, jawabanmu masih salah. Hitler tuh marah karena setiap kali dia mengangkat tangan kanannya untuk meminta “give me five”, nggak ada orang yang membalas salamnya dengan menepuk tangannya (catatan: salam “give me five” itu populer di budaya kaum kulit hitam di AS. Kita angkat telapak tangan kita sambil bilang “give me five!”, kemudian teman kita akan membalas dengan menepuk atau memukul telapak tangan kita). Makanya dia muarah besar lalu ngajak perang dunia. Ha ha haa!”

Saya bisa membayangkan ngakaknya si mahasiswi itu menerima jawaban dari dosen pembimbing skripsinya.🙂

Demikianlah, saya suka dengan gaya saya membimbing skripsi: tetap serius dan fokus, bekerja dengan cepat, namun kadang-kadang ngebodor tanpa disangka-sangka. Saya nggak tahu bagaimana kedua mahasiswi itu menyikapi gaya agak gemblung ini, tapi saya harap itu akan menjadi kenangan mereka ketika mereka sudah lulus dan jadi orang nanti.

Catatan:

Hitler atau Nazi memberikan salam dengan mengangkat tangan kanan lurus ke depan sambil meneriakkan “Hail Hitler!”.

Posted in: Uncategorized