Warisan Orang Tua dan Anak-Anak Itu

Posted on May 21, 2012

0


Sekarang saya yakin bahwa bakat dan kecenderungan diturunkan oleh orangtua kepada anak-anaknya bukan hanya lewat DNA, tapi juga lewat penanaman alam bawah sadar. Yang kedua ini lebih banyak terjadi ketika sang anak melihat bagaimana orang tuanya bersikap, bekerja, berkata-kata, dan bertindak tanduk di rumah. Tanpa mengajarkan kepada sang anak secara eksplisit, mereka telah menanamkan bukan hanya nilai-nilai tertentu namun juga kecakapan-kecakapan tertentu lewat kegiatan sehari-hari.

Yah, itu ulasan teoretisnya. Secara pengalaman, saya melihat sendiri bagaimana kedua anak saya terbentuk oleh apa yang dilakukan orang tuanya. Putri saya yang sulung gemar sekali menulis cerita fiksi, bahkan tanpa saya pernah sepatah katapun mengatakan: “Tia, kamu baiknya menulis deh, kayak papa. Asyik lho menulis itu!”. Tidak pernah sekalipun saya lontarkan kata itu, ketika tahu-tahu saya sudah mendapati anak saya ini tekun menulis di bukunya, lalu di laptop bekas ayahnya, dan sekarang di iPad. Suatu ketika, saya mendengar cerita dari sekolahnya bahwa kelompok dramanya tampil paling bagus di kelas. Kelompoknya cuma 3 orang, dan karena teman-temannya pada nggak bisa nulis cerita, akhirnya dia yang bikin cerita plus sutradaranya. Ceritanya adalah Malin Kundang with a twist. Kenapa with a twist? Karena di bagian akhir cerita, si Malin Kundang yang cerdik itu langsung bersembunyi di belakang temannya ketika sang ibu melontarkan kutukan; akibatnya, yang berubah jadi batu adalah temannya, dan sang Malin Kundang tetap jadi manusia dan akhirnya jadi bartender sukses. Bwa ha haaaa! That’s my daughter, man!

Si bungsu lain lagi. Alih-alih mengarang cerita, dia sibuk jualan es teh manis dalam kantong plastik. Dia jual seribuan di sekolahnya. Eh, laris manis! Bukan cuma temannya, bahkan gurunya yang rupanya lagi kehausan pun ikut beli. Bosan jualan es teh manis, atau mungkin mau diversifikasi usaha, dia ganti jualan hamster. Ke sekolah dia nenteng-nenteng kandang kecil berisi belasan anak hamster. Pagi tadi dia minta dibuatkan mie yang diwadahi kotak-kotak mika kecil, rupanya mau dia jual pula. Yang membuat saya agak tercengang (karena saya ini kan awam sekali soal jual menjual), adalah bahwa dia bersikeras mau menjual mie nya 2500 an. Kenapa? “Soalnya di kantin sekolah mie kayak gitu dijual 5 ribuan, jadi harus aku jual lebih murah supaya laku.” Ha ha haa! Sudah pintar berkompetisi pula nih anak.

Nih darimana nih bocah punya ide menjual-jual barang? Dari Mamanya! Mama dan Emaknya itu kebetulan jago masak, dan hari-hari ini mereka sibuk melayani pesanan lontong cap gomeh, nasi campur versi Madura, bak moy segala macam. Rupanya bocah laki-laki 9 tahunan itu terkesan melihat kesibukan di dapur mulai subuh jam 3 sampai sekitar jam 8 pagi membuat dan membungkusi makanan, yang kemudian dijual dan menghasilkan sedikit uang. Maka jadilah dia mewarisi bakat dagang itu dari sang Ibu dan neneknya.

Kalau ortu lain sibuk mengirim anaknya ke berbagai les mulai dari piano, balet, karate sampai matematika Kumon, saya dan istri saya lebih suka mengerjakan hobi dan profesi kami sebaik-baiknya sehingga kedua anak kami menyerap kemampuan dan bakat-bakat itu ke bawah sadarnya. Kelak mereka akan semakin mengembangkan bakat-bakat itu untuk menjadi manusia-manusia yang mandiri.

Posted in: Uncategorized