Lady Ga Ga dan Kita

Posted on May 18, 2012

0


Beberapa hari ini media dan Facebook rame oleh pencekalan Lady Ga Ga oleh kepolisian RI, yang naga-naganya mendapat tekanan dari FPI, sebuah ormas yang sering diidentikkan dengan kekerasan atas bendera agama tertentu.
Kontan orang-orang yang mendambakan hiburan dan kebebasan berekspresi bereaksi keras atas pencekalan itu.

Tentu semua punya alasannya, ya tho? Kenapa FPI dan Kepolisian RI mencekal Lady Ga Ga sehingga yang bersangkutan terancam tidak bisa tampil tanggal 3 Juni nanti? Menurut mereka, Lady Ga Ga harus dicekal karena goyangannya terlalu seronok, vulgar, mengandung porno aksi, sehingga ditakutkan mempengaruhi mental generasi muda. Singkatnya, penampilan Lady Ga Ga tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.

Lha terus publik yang nggak setuju mengatakan: “Lha kalau goyang dangdut yang juga jelas-jelas seronok di tayangan TV nasional kok ndak dicekal? Kok malah dibiarkan saja? Kalau itu dibiarkan, mestinya Lady Gaga kan juga boleh tampil di depan publik Indonesia?”.

Apa karena dangdut itu bagian dari budaya bangsa ini ya? Semoga Pak Polisi dan FPI tidak menjawab pertanyaan itu dengan “iya”, karena kalau iya, dan mereka masih diam saja ketika goyang dangdut merebak di desa-desa, berarti logika mereka sudah kacau balau.

Sebagian pengamat mengatakan: “Lha lapa dicekal segala? Kan jaman sekarang orang bisa mengunduhnya di Youtube, di media online segala macam?”

Sebagian yang tidak suka FPI mengatakan: “Apaan sih ormas ini? Kok ngurusi hal-hal yang nggak penting macam gitu. Kalau ada tragedi nasional, ndak pernah campur tangan atau bantu-bantu, tapi kalau ada artis Barat mau datang langsung beringas mengatasnamakan agama.”

Buat yang belum tahu, FPI itu sebenarnya bukan bentukan umat Islam. Itu ormas bentukan negara dan aparat yang tujuannya memberikan rasa takut kepada rakyat, tanpa harus menggunakan korps kepolisian atau militer. Lho kenapa kok pakai nyewa tangan FPI? Ya, karena kalau tentara atau polisi yang berhadapan dengan rakyatnya sendiri, nanti mereka dituding melanggar HAM segala macam, jadinya ya begitu itu, nyewa tangan orang lain supaya rakyat tetap terkendali, tidak berekspresi seenaknya, dan reputasi korps mereka terjaga baik. Makanya kalau FPI beraksi kan aparat keamanan cenderung pasif, lain ketika mahasiswa berdemo di jaman Mei 1998 dulu.

Kembali ke Lady Ga Ga. Karena dicekal, maka namanya berubah menjadi Lady GaGal.

Lepas dari kontroversi seputar dirinya, lagu-lagunya ternyata enak juga lho. Saya dengarkan yang “Poker Face” itu, hmm, lumayan enak, beatnya lincah, energik, suaranya juga tidak jelek, dan iramanya mengalun begitu saja.

Tapi saya tetap berkeyakinan bahwa dia itu agen setan. Makanya daya tariknya luar biasa kuat. Setan kan memang begitu: menyediakan daya pikat instan yang luar biasa, sehingga orang cepat terbuai dan menjadi pengikutnya. Lihat aja nama kelompok fansnya: “Little Monster”. Iya kan? Setan kan?

Mungkin kalau posting ini dibaca sama rekan-rekan saya yang sok New Age itu, mereka akan mencibir: “Profesor kok percaya setan,” demikian batin mereka.

Jaman sekarang, orang yang percaya Tuhan dan yakin bahwa setan itu ada akan menjadi bahan tertawaan. Ya, biarlah, kalau ndak ada yang mengetawakan posting ini juga kurang enak.

Kembali ke Lady Ga Ga(L). Jadi gimana ini nasibnya? Jadi show endak? Eh, bai the wai, Anda sudah dapat tiket shownya?

Ah, emang gue pikirin. Saya lebih suka nonton Opera van Java aja, lebih lucu dan yang jelas ndak akan dicekal FPI.

Posted in: Uncategorized