Belajar Dari Tragedi Sukhoi Super Jet

Posted on May 13, 2012

0


Jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet di Gunung Salak menimbulkan keprihatinan seluruh bangsa. Bukan hanya Indonesia, Rusia sebagai pembuatnya pun ikut galau. Kalau sudah begitu, lalu muncul beberapa dugaan penyebab jatuhnya pesawat yang sebenarnya sedang unjuk kebolehan itu. Mulai dari yang ndak mutu blas sampai yang ilmiah. Yang ndak mutu blas adalah yang mengatakan bahwa pesawat itu jatuh karena ditarik penunggu Gunung Salak, atau karena pangeran gaib yang menguasai daerah itu marah karena teritorinya dilanggar. Prediksi gombal gambul ini membuat saya makin prihatin. Kok ada aja insan Indonesia yang percaya hal-hal kayak gitu.

Nah, yang ilmiah mengatakan kemungkinan pesawat itu dihadang awan mendung tebal sehingga harus turun dari ketinggian 10 ribu kaki ke 6000 kaki supaya pilotnya bisa melihat arah terbangnya. Karena mungkin masih belum mengenal daerah itu, sang pilot tidak waspada akan adanya tebing menjulang yang kemudian ditabraknya. Kemungkinan kedua mengatakan bahwa sang pilot ingin melihat lebih dekat kontur pegunungan dan sekaligus memamerkan kecanggihan pesawat baru tersebut, sehingga dia merendahkan peawatnya ke ketinggian yang sebenarnya berbahaya. Gunung Salak itu tingginya sekitar 2000 meter, sementara pesawat itu merendah sampai ke ketinggian 1000 meter. Masuk akal kalau tiba-tiba ada tebing yang mendadak menghadang di depan dan boomm!

Lepas dari penyebabnya, tragedi itu membuat banyak orang prihatin. Total loss, no survivor. Media berlomba-lomba memberitakan perkembangan terbaru tentang evakuasi jenasah. Yang membuat saya sebal adalah reportase dari Merdeka.com di Facebook. Salah satu reportasenya menurunkan berita dengan judul: “Jenasah Korban Sukhoi Tidak Utuh”. Itu kan berita yang sama sekali tidak perlu dan malah membuat suasana makin mengenaskan. Semua juga sudah bisa tahu atau setidaknya menduga bahwa jenasah para korban pasti sudah tidak utuh karena pesawat itu menabrak tebing dengan kecepatan sekitar 700 km/jam dan sisanya pun hanya berupa puing-puing. Ya pasti lah kalau tubuh mereka sudah tidak utuh; nggak usah diberitakan juga sudah tahu. Ini contoh media buruk yang memajang judul sensasional supaya reportasenya dibaca orang.

Di balik semua kegetiran dan kedukaan itu, saya juga melihat hal lain. Begitu tragedi terjadi, banyak dari kita yang berdoa untuk para korban dan keluarganya, banyak yang membantu proses evakuasi (dua orang wartawan bahkan sampai kesasar-sasar di daerah pegunungan itu), dan tidak sedikit yang menyatakan belasungkawa lewat jejaring sosial. Nah, alangkah bagusnya kalau semangat seperti ini juga hidup untuk mereka yang masih hidup dan sebangsa setanah air dengan kita. Maksud saya, semangat gotong royong, simpati, dan kemauan saling membantu itu sebenarnya juga harus terwujud untuk sesama manusia yang masih hidup, yang berbagi ruang hidup dengan kita di tanah air ini dan sama-sama mendambakan hidup yang tenang, damai dan tanpa pertikaian antar sesama. Soalnya kan sebelum tragedi Sukhoi itu, banyak keprihatinan tentang maraknya aksi brutal geng sepeda motor, pertikaian antara TNI dan Polri, sampai kekerasan atas nama agama. Seharusnya semangat untuk para korban Sukhoi juga tidak berhenti sampai disitu tapi terus berlanjut dalam kehidupan keseharian kita semua.

Posted in: Uncategorized