Kesalahpahaman Antar Budaya (bagian 2)

Posted on May 9, 2012

0


Menarik bahwa apa yang kita anggap biasa di budaya kita ternyata sangat mengejutkan bagi orang dari budaya lain. Keterkejutan orang asing terhadap budaya kita yang satu ini membuat saya agak terhenyak: ternyata mereka sering mendapati bahwa orang Indonesia itu sering tertawa untuk alasan yang sebenarnya tidak pantas diketawakan. Contohnya, kalau ada seorang teman kita bercerita (mungkin dengan wajah agak pucat): “”wih, aku tadi nyaris jatuh terpeleset di depan kamar mandi.” Reaksi kita: langsung tertawa, ha ha haa! Iya nggak? Coba pikir ulang dan ingat-ingat bahwa ternyata kita cenderung tertawa manakala orang lain bercerita bahwa dia nyaris celaka. Di mata orang asing, ini sungguh keterlaluan. Wong orang mau celaka kok malah diketawain. Nggak nyadar ya kalau kita sebegitu sadisnya? Saya juga nggak nyadar kok, sampai suatu hari membaca kesan itu dari sebuah surat pembaca di harian berbahasa Inggris.

Di budaya Barat, kalau ada orang yang bercerita bahwa dia nyaris celaka, lawan bicaranya akan mengatakan: “Too bad!” atau “Oh! Be careful next time !” atau ungkapan sejenisnya. Jarang sekali mereka malah ketawa kayak kita, ha ha haa!

Yang kedua adalah soal suguh-menyuguh waktu kedatangan tamu. Orang Barat yang mungkin belum akrab dengan budaya kita akan merasa terusik kalau ketika bertamu tahu-tahu sudah dihidangkan minuman oleh pembantu sang tuan rumah. Mereka berkilah (mungkin membatin): “kenapa tau-tau kamu menyuguhkan sirup manis, padahal saya ndak suka minuman manis.” Di budaya mereka, biasanya mereka akan menawari tamunya mau minum apa. Dengan demikian, yang disuguhkan pasti sesuai dengan selera sang tamu. Nah, di budaya kita, ndak ada transaksi seperti ini di awal suguhan. Budaya kita tuh menghargai tamu dengan menyuguhkan apapun yang kita punya, sementara sang tamu menunjukkan apresiasinya dengan meminum atau memakan habis apapun yang disajikan.

Satu lagi budaya kita yang berseberangan dengan budaya mereka, terutama dari negeri Barat, adalah pertanyaan: “Mau kemana?’. Beberapa puluh tahun yang lalu, saya pernah menanyakan pertanyaan ini kepada seorang mahasiswi Amerika Serikat yang kos di rumah orang tua saya. Ketika melihatnya bersiap mau pergi, spontan saya bertanya “Where are you going?”, sama seperti kalau saya berpapasan di jalan dengan seorang tetangga. Tanpa saya duga wajahnya langsung agak memerah. Belakangan baru saya tahu bahwa pertanyaan yang biasa kita ucapkan di budaya kita itu dianggap tidak sopan di budaya Amerika. Mungkin dia membatin: “ngapain tanya2? Perkara aku mau ke rumah temanku atau mau jalan kemana aja kan bukan urusanmu??”.

Cross-cultural misunderstandingšŸ™‚

Posted in: Uncategorized