Memimpin Seperti Pilot dan Ko-Pilot

Posted on May 7, 2012

0


Tahun 1999 ada kecelakaan pesawat Korean Air yang cukup menghebohkan dunia. Pesawat lepas landas, lalu miring ke kanan, miring, miring, tambah miring sampai akhirnya jatuh menghunjam bumi menewaskan semua awaknya. Yang aneh, setelah rekaman suara di kokpit diperiksa oleh para penyelidik, mereka tidak menemukan pembicaraan di kokpit menjelang peristiwa naas itu. Jadi, pilot dan ko-pilot saling diam, padahal pesawatnya mulai miring (“banking” istilah teknisnya) sampai menjadi tidak terkendali. Kenapa gerangan?

Penyelidikan lebih jauh membawa pada budaya KOrea: senioritas. PIlot pesawat umumnya lebih tua/senior daripada ko-pilotnya, dan kalau sudah begitu, sang ko-pilot jadi sungkan mengingatkan pilotnya, bahkan ketika dia tahu sang pilot membuat kesalahan dalam mengemudikan pesawat. Sang pilot pun, yang lebih senior, merasa tidak nyaman kalau harus diingatkan oleh sang ko-pilot yang lebih muda. Nah, di pesawat naas tadi, ditemukan bahwa salah satu indikator yang menunjukkan kemiringan pesawat di dassboard sang pilot rusak. Sang ko-pilot tahu hal ini, karena kedua indikator cadangannya jelas -jelas menunjukkan bahwa pesawat miring ke kanan. Pada saat itu seharusnya dia bisa mengatakan: “Kapten! Pesawat miring! Instrumen Anda salah, punya saya yang benar. Oke, saya ambil alih kemudi!”. Lalu sang ko-pilot akan meluruskan pesawat lewat kemudinya. Seandainya itu yang terjadi, maka pesawat flight 8509 milik Korea itu pasti akan selamat.

Naas ya? Kasihan loh . . .bayangkan, menghunjam bumi dengan kecepatan 480 km/jam.

Pelajaran apa yang bisa saya tarik dari situ? Ternyata tidak terkait dengan dunia penerbangan, tapi dengan dunia kepemimpinan. Peristiwa itu menyadarkan saya bahwa harus selalu ada orang di sebelah sang pemimpin yang bisa melihat lebih jauh dan lebih banyak lewat sudut pandangnya sendiri, melebihi sang nakhoda. Benar bahwa sang nakhoda punya pengalaman lebih banyak dan mungkin juga lebih senior, tapi pada momen-momen tertentu, ada kemungkinan sang nakhoda hanya terfokus pada satu tujuan, tidak sadar akan konsekuensi-konsekuensi berat yang mungkin harus ditanggungnya jika satu langkah diambil. Nah, adalah tugas sang “ko-pilot” tadi itu untuk mengingatkan pemimpinnya. Sang pemimpin juga harus legawa untuk menerima masukan dan bahkan peringatan dari pendampingnya, kalau memang itu masuk akal.

Saya nulis begini karena memang sudah beberapa kali saya alami. Saya pernah berada di posisi sang kapten, pernah pula berada pada posisi sang ko-pilot. Pada saat saya berada pada posisi sebagai kapten, wah maunya gebrakan terus aja, bikin ini bikin itu, kerja sama dengan sana, kerja sama dengan situ, kirim dosen kesana kemari. Nah, kalau tidak ada rekan atau pimpinan lain yang memberi pandangan tentang konsekuensi yang belum saya lihat, mungkin saya akan terus melancarkan program-program itu. Pada saat yang lain, sayalah yang menjadi ko-pilot dan memberikan peringatan kepada seorang rekan yang mungkin sedang sangat antusias dengan idenya sehingga tidak melihat konsekuensi yang saya lihat. Begitu.

Posted in: Uncategorized