Yang Aneh-Aneh dari Blackberry

Posted on April 28, 2012

0


Yang Aneh-Aneh dari Blackberry

Blackberry itu canggih. Entah sihir apa yang dijejalkan pembuatnya ke gadget mungil itu sehingga dia bisa melakukan seribu satu hal ajaib: chatting, twitteran, fesbukan, memotret, merekam video, dan masih banyak lagi. Tapi ternyata tingkah laku penggunanyapun tak kalah anehnya, sedemikian anehnya sampai saya kadang-kadang bergidik.

Yang pertama adalah test contact. Ini adalah tindakan mengirim pesan ke semua BB orang lain yang ada di daftar kontak untuk melihat apakah mereka masih menyimpan PIN nya. Ini menjadi sangat mengesalkan karena saya mengira ada pesan penting masuk, tapi ternyata setelah saya lihat hanyalah seseorang yang sedang test contact. Grrr!!! Ini sama saja dengan ketika Anda sedang tidur nyenyak di malam hari, lalu telpon berdering-dering nyaring. Anda tergopoh-gopoh bangun nubras nubras kesana kemari untuk mengangkat telpon, sambil deg-degan jangan-jangan ada kabar buruk dari sanak saudara. Eh, ternyata di seberang sana seseorang dengan enaknya mengatakan: ‘maaf, ini aku sedang nge tes apakah elu masih bisa mendengar telpon atau endak.’ Bayangkan kesalnya!

Tindakan yang juga tidak etis adalah mengirimkan promosi ke semua orang di contact list. Karena di BB ada yang namanya fasilitas Broadcast All, maka dengan mudah seseorang bisa mengirimkan pesan yang tidak berguna itu ke semua orang yang terkoneksi dengan BB nya.

Maka kalau mau promosi dengan lebih sopan, sebaiknya memasang gambarnya di profil picture saja dengan disertai status yang memberitakan promosi. Jadi kalau misalnya Anda ini seorang gigolo, cukup pasang foto Anda bertelanjang dada di profil pic, kemudian tulis status seperti ini: ‘ anda kesepian? Butuh belaian dari seorang pejantan asli? Kontak saya yaaa?’ Nah, lebih sopan bukan?

Nah, tindakan yang di mata saya benar-benar aneh adalah mereka yang memasang anti spy di BB nya. Ini adalah fasilitas tambahan semacam pelapis layar tipis yang membuat layar BB tidak terbaca oleh orang lain yang kebetulan di belakangnya atau dekat di sebelahnya. Lha siapa yang mau repot-repot mbaca layar BB orang di sebelahnya, ya thoo?? Tapi nyatanya tindakan paranoid ini banyak dilakukan, dus membuktikan bahwa beberapa pemilik BB memang punya kelakuan yang sungguh tak bisa saya mengerti. Aneh, aneh dan ganjil. Tapi oooo, sekarang saya tahu kenapa mereka begitu. Orang-orang yang membeli anti spy seperti ini pasti adalah para peselingkuh yang takut kalau chatting mesranya dengan pasangan gelapnya dibaca orang lain. Coba, kalau chat mereka biasa-biasa aja kan ndak sampai kepikiran pasang anti spy segala tho?

Saya ndak pernah kepikiran masangi BB saya dengan fasilitas seperti itu, ya karena memang saya ini orang lugu, maka chat BB saya pun ya biasa-biasa aja, mau terbaca orang lain ya saya ndak peduli. Mau tahu buktinya? Nah, kalimat di BB saya di bawah ini saya tulis untuk seorang kolega ketika menghadiri Forkomil bulan lalu:
“Sayang, nanti jadi tah ketemu di Student Center? Suamimu masih di luar kota kan? Baik, ntar aku tunggu disana, mmmuachh…!”

Terus yang berikut ini saya kirim ke seorang rekan waktu saya rapat koordinasi dengan pimpinan: “Ini saya lagi rapat masalah dana. Nanti kalau udah selesai saya bocorkan semua rahasia ini ke Bapak. Tunggu ya? Ok?”

Nah, coba baca sendiri, lugu kan pesan-pesan BB saya? Makanya, saya ga perlu pasang anti spy segala di BB saya karena walaupun terbaca orang lainpun gak akan membuat heboh.

Brua ha ha ha ha ha ha ha HAAAA!!!!

Ini masih ditambah dengan kelakuan beberapa orang yang benar-benar gadget mania. Pokoknya mereka ini berprinsip bahwa setiap kali ada model BB baru yang dirilis, mereka merasa harus membelinya. Jadilah mereka ngutang sana-sini atau jungkir balik supaya bisa membeli gadget itu, padahal BBnya yang lama masih bagus dan berfungsi baik. Mereka merasa depresi kalau BB nya bukan keluaran terbaru. Nah, salah satu dari mereka ini pernah mengejek saya karena melihat BB saya yang hanya model murah. “Wong Dekan kok bawaannya BB curve,” dia bilang. “Mbok ganti yang lebih bagus lah.”

Aneh kan? Jadi dia mengukur kehebatan seorang Dekan dari BB nya, bukan dari kinerjanya.

Tapi ternyata di tengah semua kegilaan ini ada orang yang masih waras. Dua mahasiswa saya sudah terang-terangan tidak ber BB lagi. Menurut mereka, setelah tidak ber BB hidup mereka menjadi agak lebih tenang.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized