Merasa Bangga Itu Ada Syaratnya

Posted on April 26, 2012

0


Banyak orang mengatakan bahwa mereka bangga dengan berbagai hal yang telah diraihnya atau beberapa barang yang dimilikinya. Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya tidak sembarang waktu dan untuk sembarang hal kita bisa merasa bangga. Ternyata, rasa bangga itu ada syaratnya.

Syarat utama adalah: hal atau pencapaian atau barang yang kita miliki itu harus juga mendapat apresiasi tinggi di mata khalayak ramai. Kalau apresiasi itu ternyata hanya datang dari kita sendiri atau beberapa orang yang terdekat dengan kita, maka sebenarnya kita belum layak merasa bangga.

Contoh paling ekstrim adalah seorang perampok. Kalau Anda seorang perampok yang sudah puluhan kali mendapatkan hasil jarahan puluhan atau ratusan juta, apakah Anda bangga dengan reputasi tersebut? Ya, boleh-boleh saja Anda merasa bangga, tapi kebanggaan itu ya semu belaka karena sejatinya tidak ada manusia lain yang normal yang mengapresiasi kelakuan Anda sebagai perampok. Kalau orang lain malah mengutuk tindakan Anda, apa iya Anda pantas merasa bangga?

Ekstrim yang lain adalah profesi sebagai pengusaha sukses. Kalau Anda seorang pengusaha sukses, apakah Anda bangga? Tentu bangga kan? Nah, yang ini adalah rasa bangga yang sah, karena sebagian besar orang lain juga akan mengapresiasi profesi Anda tersebut.

Nah, tapi ternyata ada juga kasus yang aneh tapi nyata: profesi guru, atau dosen lah. Jika Anda seorang dosen/guru, apakah Anda bangga dengan profesi tersebut?

Hmm,. . . ya tentunya iya dong ya, Anda akan bangga. Tapi, . . . sebentar,. . . . setelah direnung-renungkan lagi, ternyata didapati bahwa apresiasi masyarakat untuk profesi itu masih rendah. Banyak orang tua yang merasa keberatan kalau anaknya bercita-cita jadi dosen atau guru. Banyak anak muda yang sama sekali tidak mau memikirkan karir sebagai pendidik untuk masa depannya. Nah, apakah Anda masih merasa bangga berprofesi sebagai pendidik (baca: dosen/guru)?

Jadi, apakah saya bangga berprofesi sebagai guru, yang nota bene sekarang adalah Guru Besar (karena saya sudah profesor)? Ya, secara hati nurani saya merasa bangga, karena melalui profesi ini saya menumbuhkembangkan banyak orang muda, melalui profesi ini saya membaktikan hidup sebagai insan ciptaan Tuhan yang dari surga sana sudah dibekali dengan potensi dan bibit-bibit baik. Namun saya tahu bahwa sebagai guru saya tidak mendapatkann apresiasi yang sangat tinggi di kalangan masyarakat yang masih (baca: makin) mendewakan kekayaaan materi ini. Jadi ya begitulah, saya bangga tapi tidak akan mau mengumumkan ke khalayak ramai bahwa saya bangga, karena saya tidak mau ditertawakan, walaupun diam-diam.

Begitulah . . .

Posted in: humanity