Tua dan Tahu Diri

Posted on April 22, 2012

0


Tua dan Tahu Diri

Semua orang menjadi semakin tua, dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari, dan tahun ke tahun. Sehebat dan seterkenal apapun, tak ada yang abadi. Pada suatu hari Anda harus menyadari bahwa saatnya telah tiba untuk mundur dan menyerahkan tampuk kejayaan ke orang lain yang lebih muda.

Posting ini diilhami oleh dua peristiwa dalam sport yang saya saksikan kemarin. Yang pertama adalah gagalnya Michael Schumacher masuk babak kualifikasi balap F1, dan yang kedua adalah kalahnya Barcelona melawan Real Madrid.

Di masa jayanya, tak ada yang bisa menandingi kecepatan Schumacher dalam menggeber mobilnya. Bayangkan, 7 kali juara dunia F1! Namun, saat ini usianya sudah 43 tahun. Ketangkasannya melibas tikungan sudah memudar. Akibatnya, dia terpental dari babak kualifikasi kedua. Dia keluar dari kokpit mobilnya, melepas helm dan overall balapnya, lalu berjalan kaki kembali ke motorbasenya sementara lawan-lawannya yang jauh lebih muda mendesing-desing di lintasan. Era sudah berubah, dia sudah tua, tidak lagi setangkas yang masih muda, dan untunglah nampaknya dia cukup legawa menerima kenyataan itu.

Saya pernah mengira bahwa kesebelasan Barcelona tak akan pernah terkalahkan. Namun, tadi subuh saya menyaksikan bahwa mereka ternyata dibuat mati kutu oleh Real Madrid, dan akhirnya kalah 1 – 2. Tak ada kejayaan abadi. Pada suatu saat, kesebelasan paling dahsyat seperti Barca pun harus rela menerima nasib dikalahkan.

Jadi, siapapun yang sedang berada di puncak kekuasaan harus sadar betul hal ini. Tak seorangpun bisa melawan keniscayaan usia. Ketika usia menua, jangan pernah lagi berpikir bisa bertahan di puncak. Demikian juga ketika saat ini Anda sedang berada di posisi pucuk pimpinan, yakinlah bahwa Anda suatu saat akan harus rela digeser oleh yang lain, yang jauh lebih populer dan disukai sebagai pemimpin.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized