Bunuh Diri

Posted on April 16, 2012

0


Makin banyak orang bunuh diri. Di Jepang, di Korea, di Jakarta. Akankah akan terjadi juga di sekitar kita?

Orang bunuh diri menunjukkan gejala-gejala aneh beberapa hari sebelumnya. Ada yang terus menerus murung dan mulai makin sering menyebut-nyebut mau bunuh diri. Ada yang diam saja, tidak bertingkah laku aneh, namun tiba-tiba sudah melompat dari jendela atau gantung diri.

Tapi ada juga yang hanya menujukkan gejala-gejala itu sebagai gertak sambal, sebagai sarana untuk mendapatkan perhatian lebih, entah dari orang tua atau kekasihnya yang dianggapnya jahat. Salah satu yang tergolong perilaku merajuk ini (merajuk = manja , minta diperhatikan sedikit lebih) adalah kalau seseorang mengatakan kepada orang lainnya: ‘dulu kamu pernah menyuruh saya bunuh diri. Baik, akan saya lakukan!’. Yang beginian jelas tidak akan dilakukan, karena tujuannya hanya membuat orang lain tadi merasa bersalah, kemudian mulai mengabulkan semua permintaan si orang yang mengancam mau bunuh diri tadi.

Saya pernah punya murid yang dulu kayak orang frustrasi. Beberapa kali dia menyebut-nyebut bunuh diri, eh, gak kesampaian juga. Ternyata beberapa bulan yang lalu malah udah nikah! O alah, ya untunglah happy ending, padahal dulu kayak bener2 sudah niat matiiii, gitu.

Tapi pesan dari tulisan di atas adalah bahwa sejatinya sulit membedakan mana perilaku merajuk yang hanya gertak sambal, dan mana yang benar-benar ditindaklanjuti dengan tindakan bunuh diri. Maka tidak ada salahnya mulai waspada terhadap orang yang menunjukkan tindakan bersiap-siap mengakhiri hidup ini. Kalaupun nanti jebulnya hanya gertak sambal belaka, ya ndak mengapa, paling banter resikonya kecele. Tapi kalau ternyata tindakan itu benar-benar sudah tekad bulat untuk mati, Anda akan bersyukur sebab bisa mencegahnya.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized