Anjingku Hebat!

Posted on April 12, 2012

0


Saya punya anjing,namanya Taro. Bulunya hitam, tubuhnya lumayan besar. Anjing ini diberikan oleh seorang mahasiswi Akuntansi sekitar dua tahun yang lalu. Nah, si Taro suka berkelahi dengan seekor anjing tetangga, namanya Boy (maksudku: anjingnya yang bernama Boy, bukan tetangganya). Pertengkaran mereka kadang aneh, lha masak suatu hari saya pernah melihat si Taro lari terbirit-birit dikejar oleh si Boy yang tubuhnya jauh lebih kecil. Tapi pada lain kesempatan, Taronya menang dan si Boy dihajar sampai masuk ke selokan.

Nah, rupanya tuannya si Boy ini (sebut saja namanya Bu Mamat) kurang suka dengan Taro yang dinilainya sering berkelahi dengan Boy. Satu pagi, ketika kedua anjing itu bertengkar, Bu Mamat ikut campur dan bukannya mendamaikan atau memisahkan, dia malah (a) ikut bertengkar dan menggigit, (b) nangis gerung-gerung, dan (c) semua jawaban di atas salah.

Ya, betul, jawabannya (c). Ternyata dia mengambil sapu dan memukuli anjing saya dengan ganasnya sampai hidung si Taro luka parah. Taronya pulang dengan berdarah-darah. Seisi rumah sepakat untuk tidak memperpanjang masalah itu, namun kami yakin suatu ketika Bu Mamat yang jahat itu pasti kena batunya.

Nah, suatu hari, beberapa bulan setelah itu, Bu Mamat sialan ini lewat di depan rumah dengan ibunya. Taro menengok sekilas, lalu berjalan melewati mereka berdua ke arah berlawanan. Sampai disini tak ada sesuatu yang istimewa. Mendadak, sekian puluh meter dari tempatnya, si Taro berbalik arah, berlari kencang tanpa suara, tanpa menggonggong, mendekati Bu Mamat dan langsung menghunjamkan taringnya ke betis Bu Mamat. Jlebzzz!

Bu Mamat terkaing-kaing seketika. “Kaing, kaiiing,. . . bangsat kamu anjing, kaiiingg!!” begitu bunyinya. Dia mengambil tongkat maunya dipukulkan ke Taro, tapi anjing setan itu sudah melesat pergi masuk rumah.

Buntutnya, kami terpaksa mengganti biaya pengobatan Bu Mamat beberapa ratus ribu. Tidak mengapa, karena kami merasa bahwa ganjaran setimpal telah ditimpakan kepadanya. Betis Bu Mamat sekarang berhiaskan dua lubang bekas gigitan si Taro. Entah kenapa, saya kok senang ya melihatnya? Hmm, . . . aneh, mestinya saya tau itu ndak boleh, tapi well, saya mau jujur aja: saya senang lho melihat dua lubang itu!

Pelajaran untuk Bu Mamat sudah jelas: jangan jahat ma anjing. Penelitian membuktikan bahwa hewan ini ternyata lebih mulia daripada monyet. Yang jelas dia setia, teman yang baik, tidak pendendam . . .

Tidak pendendam? Bayangan kejadian yang menimpa bu Mamat itu membuat saya kagum dan takjub: betapa cuek dia kelihatan, lalu dia mendadak berbalik arah, melesat bak anak panah, tanpa suara, dan bless! Sasarannya pas: si Mamat, dan bukan perempuan di sebelahnya. Gilaaa, hebat nian anjing ini. Itu membuktikan (a) dia punya taktik (b) dia mendendam terhadap orang yang menyakitinya (c) semua jawaban sebelumnya benar. Yak benar! (C) jawabannya.

Anjingku hebaatt!

Posted in: Uncategorized