Universal Studio di Singapura

Posted on April 10, 2012

0


Universal Studio di Singapura

Pada hari Sabtu yang lalu saya pergi ke Universal Studio di Singapore. Saya pergi bersama istri dan kedua anak saya. Saya melihat banyak pemandangan bagus. Saya berjalan-jalan sampai lelah….ini tulisan kok kayak tugas esai anak SD ya? Ha ha haaa!

Jualan budaya orang di tanah sendiri. Inilah yang saya amati di Universal Studio. Singapore ini pinter emang: budaya Hollywood dikemas dengan sangat apik di tanah seluas puluhan hektar, kemudian dijual, dan laris manis. Sepanjang jalan masuk dipamerkan ikon-ikon Hollywood, mulai dari sosok Frankenstein, panggung kabaret lengkap dengan penyanyinya, sampai gedung -gedung yang khas mewarnai lanskap budaya Amerika. Masuk sedikit ke dalam ada robot Transformer, roller coaster, dan aneka permainan yang paling sederhana seperti komidi putar sampai naik perahu karet menyusuri alur, kemudian mendadak jatuh menuruni permukaan landai plus diguyur air.

Ini surga bener buat anak-anak saya. Seandainya mereka diberi stamina lebih, bukan tidak mungkin mereka nekad main disitu sampai USnya tutup, mengantri dari satu atraksi ke atraksi lainnya. Tinggallah sang Papa ini tersaruk-saruk mengikuti mereka kemanapun mereka pergi. Dulu jaman saya masih kecil, bapak ibu saya sering membawa saya dan adik-adik main ke Taman Senaputra di belakang RSU itu. Ngeliat monumen pesawat sambil nggodain monyet rasanya sudah bahagia sekali. Sekarang, saya dan istri harus terbang ke negeri tetangga untuk membawa kedua anak kami ke tempat yang sejuta kali lebih modern daripada di Senaputra itu. Bukan mustahil cicit saya kelak akan dibawa orangtuanya ke Bulan untuk bersenang-senang di Taman Hiburan Rakyat yang sudah ndak terbayangkan canggihnya.

Cuaca yang panas menyengat, jarak yang lumayan jauh, dan lautan manusia sungguh bukan firdaus bagi saya. Tapi bagi yang suka berbelanja, suka memompa adrenalin dan memang tipe orang yang suka main rame-rame, US adalah surga betulan. Biasanya yang seperti ini berusia sekitar 35 tahun sampai 6 tahunan. Di atas usia itu biasanya sih sudah merasa haus akan sesuatu yang lebih mengisi, terus mereka pada pergi ke tempat-tempat yang lebih sepi, alam yang masih perawan, atau pusat-pusat meditasi dan olah batin lainnya.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized