Semesta Mendukung

Posted on April 10, 2012

0


Semesta Mendukung

Istilah semesta mendukung (disingkat ‘Mestakung’) pertama kali saya dengar dari Prof. Yohannes Surya yang telah banyak mengantar anak-anak negeri ini meraih juara di olimpiade Fisika. Pada intinya, teori ini menyatakan bahwa jika suatu hal telah didukung oleh sang semesta, maka hal itu pasti terjadi. Sebaliknya, jika semesta tidak mendukung, maka biar sekeras apapun upaya telah dilakukan, tetap saja hal tersebut tidak akan terjadi.

Dunia Barat mengenalnya dengan ungkapan ‘there is time for everything’.

Kita di Timur mengenalnya dengan ungkapan ‘memang sudah nasibnya’ atau ‘memang sudah takdirnya’.

Saya bahkan sudah merasakan kebenarannya sejak masih mahasiswa. Ketika harus mengerjakan tugas menulis paper, saya harus mencari sumber literaturnya di perpustakaan ( jaman itu belum ada Mbah Google). Nah, ada beberapa kali saya harus pulang dengan tangan hampa. Rasanya tidak ada satupun yang saya baca yang pas untuk topik yang sedang saya tulis. Tapi suatu hari lain ketika saya mencoba lagi, entah gimana caranya tiba-tiba setiap buku yang saya raih ternyata cocok dengan topik itu; setiap artikel jurnal yang saya baca langsung terasa pas, dan kemudian semuanya mengalir dengan lancarnya sampai pada akhir deadline dimana saya bisa mengumpulkan paper dengan hasil yang memuaskan. Bahkan sekarangpun setelah Mbah Google lahir, pola yang sama bisa terjadi lagi.

Ketika momen Mestakung terjadi, maka semua urusan mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar terjadi saling sinkron satu dengan lainnya, semuanya, SEMUA hal di alam semesta ini, mendukung momen yang kita perlukan untuk mencapai tujuan kita. Apakah ada hitungan matematisnya? Mungkin juga ada, mengingat yang mencetuskan ide ini adalah seorang profesor ilmu eksakta. Jadi, dengan kata lain, Mestakung bukanlah kebetulan semata-mata.

Rasanya, prinsip ini juga berlaku nyaris untuk semua hal. Dimulainya sebuah hubungan persahabatan, dan berakhirnya hubungan itu, semuanya terjadi seolah-olah begitu saja. Bangkitnya suatu usaha, atau kegagalannya, juga demikian. Dalam kasus kegagalan atau keretakan hubungan, umumnya kita akan merasa gundah, namun sedemikian hebatnya Mestakung ini sampai kala kita sampai pada titik nadir, hati kita sudah terasa keras, agak mati rasa, dan sangat siap menyambut momen itu.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized