Singapura di Mataku

Posted on April 9, 2012

0


Singapura di Mataku

Apa istimewanya pergi ke Singapore jaman millenium kedua? Nggak ada. Kalau dekade tahun 70 an, orang Indonesia yg pergi ke Singapore pasti akan dibilang istimewa, luar biasa kaya. Masih jarang sekali rakyat Indo yg bisa kesana. Sekarang, setiap akhir pekan atau long weekend, Singapore sudah kayak halaman tetangga belakang rumah yang menjadi tempat main banyak orang kita.

Kami kesana dengan tujuan utama mengantar kedua anak kami berwisata. Istri saya seperti biasa mau shopping kecil-kecilan. Lha saya? Saya ndak suka shopping, ndak suka Singapore, dan ndak suka liat atraksi turisme. Saya kesini ya mengantar mereka sambil cari bahan untuk dijadikan posting.

Dari yang saya dengar dari beberapa rekan, orang Singapore bukan tergolong orang yg ramah. Ternyata benar. Secara umum, mereka bisa dibilang datar, dingin, lugas, bahkan sedikit ketus. Kalau di budaya kita, ketika kita ditanya orang tentang sesuatu dan ternyata kita tidak tahu pun, kita masih menjawab dengan ungkapan pelunak: ‘ wah, maaf, saya ndak tahu. Mungkin bisa tanya mbak yg disana itu?’. Nah, kalau disini, jawaban itu cukup disampaikan dengan ‘i dont know.’ Titik. Tanpa senyum, tanpa keterangan tambahan. Ya, ada sih beberapa gelintir orang yang ternyata ramah dan tulus membantu, tapi secara umum, kesan dingin, lugas, dan sedikit ketus itu terasa kuat. Gadis atau wanita Singapore cantik, tubuhnya juga bagus, tapi tidak heran mereka bahkan tidak menempati ranking wanita paling menarik di dunia, ya karena kesan ketusnya itu tadi. Pernah dengar miss Singapore menang kontes ratu-ratuan? Nggak kan? Lha ya itu, bener wis.

Kami sampai di hotel di daerah Geylang. Orang bilang ini daerah PSK. Kami pikir halah, biarin dah, paling juga kayak apa sih. Soalnya rate hotel disana ya ternyata paling pas untuk kami berempat, jadi ya biarlah. Nah, ndak taunya, belum juga turun dari taksi, kami disuguhi pemandangan dahsyat di trotoar depan hotel: ada empat wanita usia dua puluhan tahun berdiri berjejer, memakai pakaian ketat dan minim dengan hotpants, sesekali menyibak rambut panjangnya dengan mata memandang berkeliling. Di depan mereka, seorang pria usia sekitar 35 tahunan, mondar-mandir mengucapkan sesuatu kepada beberapa pria yang kebetulan lewat sambil tangannya menunjuk ke arah empat wanita muda di belakangnya. Sesekali ada beberapa pria yang berhenti, berbicara agak lama dengan si pria itu, kemudian menatap gadis-gadis itu, kemudian tangannya membentuk sejumlah angka. Astagaa, rupanya mereka sedang bertransaksi! Ketika terjadi kesepakatan, beberapa dari keempat gadis itu langsung mengikuti si pria yang mampir tadi, masuk ke sebuah bangunan persis di depan hotel.

Adegan seperti itu berlangsung terus menerus, bahkan ketika kami sudah masuk ke kamar yang kebetulan menghadap ke trotoar itu. Silih berganti keempat gadis itu datang dan pergi menemani pria-pria. Sekali waktu, tiba-tiba terjadi kegaduhan. Berpuluh-puluh wanita muda dengan pakaian minim berlarian masuk ke gedung depan hotel, sebagian lagi kocar-kacir menghilang ke sudut-sudut jalan. Ada apa? Saya menduga ada semacam patroli ketertiban susila yg sedang keliling, dan menangkap mereka yang ketahuan ‘berjualan’ di tepi jalan. Nampaknya daerah ini memang dilegalkan untuk bisnis prostitusi, tapi rupanya ada larangan berjualan di jalan publik. Memang, ketika berjalan-jalan di sekitarsitu, saya melihat ada beberapa bangunan yang mboh kamsud atau geje: kayak salon atau karaoke, tapi kok bukan? Kafe juga bukan, lantas apa sih ini? Begitu ada pintu salah satunya terbuka, saya langsung maklum: sekilas saya melihat beberapa wanita muda dengan rok mini dan baju ketat duduk-duduk di sofa panjang dengan senyum dan kerlingan mengundang. O, ini ‘kantor’ resmi mereka rupanya.

Saya sudah sering membaca atau mendengar berita tentang prostitusi di berbagai kota dan berbagai negara, tapi melihatnya dengan mata kepala sendiri, ya baru kali ini di Singapore. Melihat gadis- gadis muda berwajah Asia dengan penampilan seperti itu, meraup rejeki dengan menjajakan tubuhnya, perasaan saya bercampur-campur antara getir, jijik, prihatin, heran, kasihan, tapi juga geli. Insan-insan ini, masih muda, sudah merasa tidak bisa bekerja yang lebih pantas daripada menjual tubuhnya kepada para pria. Mungkin juga mereka memang tidak bisa apa-apa lagi selain kerja seperti itu. Mungkin juga mereka menikmatinya. Ah, masa sih wanita sampai sebegitu kehausannya akan seks?

Saya jadi sedikit’trauma’ dengan model pakaian yg mereka pakai: bahu terbuka, punggung terbuka, pinggul kelihatan, paha hanya dibalut celana pendek ketat. Kalau saya punya mentee lagi dan ada yg berpakaian seperti itu, saya pasti langsung teringat pemandangan getir di Geylang ini dan dia pasti saya suruh pulang ganti baju, atau saya siwak empat tahun. Malu kan jadi mentor punya mentee berpenampilan kayak PSK?

“Inilah hidup, nak,” kata saya kepada kedua anak saya. “Banyak sisi hidup yang kamu bisa sadari. Ada yang bekerja jadi guru kayak papa dan mama, ada yang jadi karyawan toko, pemilik usaha, tapi juga ada yang kayak gini. Yang penting kalian harus ingat bahwa ini adalah jalan gelap. Rawan penyakit, jelas tidak bisa membuat bahagia.”

Kedua anak saya terdiam. Beberapa saat sebelumnya mereka berceloteh heboh mengomentari tingkah polah para penjaja tubuh itu. Apalagi waktu ternyata ada pasangan hombreng yang lewat bergandengan tangan dengan mesra, disusul waria, terus ada oom-oom botak naik motor seperti seolah-olah mengejar beberapa di antaranya. Kamar heboh, sebagian juga karena saya nguakak keras-keras mendengar komen mereka. Ya, saya pikir tidak ada salahnya anak saya melihat dengan mata kepala sendiri dunia pasar daging hidup ini. Toh sudah kami bekali dengan baik. Mereka akan tahu dan sadar, dan saya yakin itu justru akan meneguhkan mereka kelak untuk tidak sekali-sekali mencoba dunia ini.

Bahasa Inggris Singapore disebut Singlish, singkatan dari Singaporean English. Haduuh, jueleknya pol! Karena kecampuran logat bahasa Tionghoa, pengucapannya jadi gak karuan dan membuat kami sering sulit mengerti maksud mereka. Kata-kata seperti ‘yu wan a?’ , ‘hau mah?’ atau ‘whak ai min is’ sering terdengar terucap. Kalo ndak biasa pasti bingung memahaminya (yang pertama dari ‘do you want, too?’, terus ‘how much’, dan ‘what i mean is…’.)

Lepas dari itu, negeri ini membuat saya iri dan kagum atas komitmennya menjaga kebersihan, kehijauan, dan kedisiplinan. Lalu lintas lancar, minus sepeda motor. Taman hijau penuh dengan pepohonan rindang dan rerumputan subur mengular sepanjang jalan. Orang sini kalah kreatif sama bangsa saya. Kalau di Malang ruang hijau kayak gini langsung disulap jadi hutan ruko!

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized