Korea Stress (K-Sutiris)

Posted on April 4, 2012

0


Kita kenal bangsa Korea sebagai bangsa dengan kemajuan yang kecepatannya mengagumkan. Dalam waktu satu dekade terakhir, kita makin mengenal dan bahkan menggemari produk-produknya, mulai dari AC, mobil, ponsel, TV sampai sinetronnya kita sambut dengan histeris. Luar biasa! Tapi ternyata, seperti kata pepatah “everything has the price to pay”, semua itu ada harganya; bangsa ini secara umum bukan bangsa yang riang gembira. Dari satu artikel yang disodorkan oleh seorang MaChunger, saya jadi tahu apa harga yang harus dibayar oleh bangsa yang sekilas mencengangkan itu.

Korea terpuruk habis-habisan setelah perang dengan bangsa lain, termasuk dengan saudaranya sendiri (yang sekarang disebut “Korea Utara”). Untuk menggerakkan ekonomi dan memacu kemajuan, diktator Park Jung Hee menyebarkan keyakinan “can do” (kita bisa). Intinya, bangsa Korea itu pasti bisa maju, bisa menjadi bangsa yang disegani di dunia, bisa menjadi sukses dan makmur. Nah, untuk mengejar cita-cita itu, semua anak bangsa disuruh bersicepat bekerja dan bekerja sama serta bekerja sangat keras. Yah, namanya juga diktator, mana berani rakyatnya membangkang. Maka mentalitas “can do” dan “hurry up” (cepat! cepat!) itu pun menyebar bagai virus ke seluruh negeri. Rakyat Korea menjadi bekerja sangat keras, dan cenderung cepat. Saya dengar sendiri dari rekan yang memberi saya artikel itu, betapa berat tuntutan dari profesornya ketika dia menempuh studi S2 di Busan. Pokoknya kerja, kerja, cepat, cepat!

Akibatnya memang terasa. Setelah sekian tahun seperti itu, produk yang namanya Samsung mulai merenggut pasar dunia, merek-merek mobil Korea makin terkenal, menyaingi Jepang dan AS. Korea menjadi bangsa yang disegani di panggung global. Namun, tanpa disadari, ternyata semua itu harus dibayar dengan kesehatan mental rakyatnya yang ternyata tidak sesehat kemajuan teknologi dan ekonominya. Sebagian besar merasa tertekan dalam budaya yang mengutamakan kecepatan dan kerja keras untuk mengejar keunggulan. Tidak seperti di budaya kita dimana orang masih bisa bercengkerama dan guyon-guyon bersama keluarga atau teman-teman, budaya mereka nyaris tidak mengenal kebiasaan itu. Pria Korea, kalau sedang stress berat, larinya ke minuman keras.

Artikel itu menggambarkan bagaimana sebagian rakyat Korea memandang hidupnya. Ada seorang jejaka yang merasa stress karena sekalipun sudah bekerja, dia tetap belum bisa mengumpulkan cukup banyak uang untuk menikah. Biaya hidup disana ternyata gila juga. Lalu ada kisah seorang karyawan yang juga merasa khawatir tentang hari tuanya. Di Korea, kalau seorang pekerja sudah mulai memasuki masa senja, dia akan dengan mudah digantikan oleh yang masih muda-muda, tidak seperti di Barat, katanya. Lalu masih ada seorang praktisi pendidikan yang mengeluh tentang betapa ketatnya kompetisi di kalangan siswa untuk menembus perguruan tinggi terkenal di Korea. Ibaratnya, dapat nilai 97 pun belum cukup untuk lulus, karena yang diterima adalah mereka yang nilainya 100. Kasus seperti ini dengan sangat mudah memicu frustrasi, karena para siswa yang gagal itu sudah belajar luar biasa keras, dan toh harus mengalami kenyataan pahit tidak bisa lolos seleksi. Akhirnya, banyak yang frustrasi dan nekad bunuh diri.

Begitulah, budaya yang disebut “bali bali” ini (nama yang aneh; kalau di kita sih kata “Bali” identik dengan keindahan dan eksotisme) memang sukses membawa bangsa KOrea menjadi salah satu macan ekonomi dan teknologi, namun rakyatnya ternyata juga tidak bisa disebut happy.

Lalu bagaimana jalan keluarnya? Masing-masing yang diwawancarai di atas mengusulkan berbagai perubahan budaya, namun ada satu yang sangat menggetarkan buat saya. Dia bilang: “Kalau stress berat, saya curhat sama istri saya dan berdoa. Tanpa Tuhan dan tanpa dukungan istri saya, saya maunya marah terus dan berantem sama orang lain.”. Hmmm…. ini yang saya suka. Di tengah gelapnya hidup dan ndak jelas dimana cahaya sialan di ujung lorong gelap itu, masih ada orang yang berserah diri kepada Tuhan dan berbagi rasa dengan pasangan hidupnya.

Lalu saya merenung. Apa yang dialami bangsa Korea bisa dengan mudah kita alami juga: bertekun dalam mengejar pertumbuhan, bekerja luar biasa keras dari jam 8 sampai jam 8, serius terus, gak usah ada gathering santai-santai, pokoknya tancap gas terus. . . . jadi apa ya kita? Ya pasti akan sukses lah kita, berjaya luar biasa, tapi ingat, akan selalu ada harga yang harus kita bayar untuk itu.

* Thanks untuk Pak Hari Kristopo yang menyarankan kepada saya artikel tentang bangsa Korea itu.

Posted in: humanity