Jean Alesi: Brilyan tapi Sial

Posted on April 1, 2012

0


Jean Alesi mungkin tidak setenar Ayrton Senna atau Michael Schumacher, tapi dunia balap F1 mengenang orang Perancis ini sebagai pembalap luar biasa namun juga paling sial.

Jean Alesi identik dengan mobil Ferrari merah bermesin V12. Mesin dengan konfigurasi V12 ini ditenagai oleh 12 silinder yang masing-masing berkapasitas 3000 cc. Bisa dibayangkan tenaga yang disemburkannya! Lawan-lawannya memakai V10, yaitu mesin bersilinder 10 dan disusun seperti huruf V (makanya namanya pake ‘V’). Maka, pada era itu, mobilnya Jean Alesi bisa dikenali dari warnanya yang merah dan bunyi mesinnya yang ibarat malaikat menjerit dengan nada tinggiiii sekali: whhhiiiiiiiiiiiiiingng!!!

Apakah Jean menjadi juara dunia pada waktu itu? Ternyata tidak. Mobil dengan tenaga dahsyat itu gila di jalur lurus, tapi kalah lincah di tikungan. Toh di tangan Alesi, mobil ini bisa mencuatkan performa yang menakjubkan. Di sirkuit Suzuka, Jepang, dia mengejar lawannya dengan gaya menyetir yang sungguh luar biasa. Saya melihatnya di Youtube, langsung dari kokpitnya, dan sekalipun saya bukan pembalap, saya bisa merasakan betapa luar biasa Alesi menggeber mobilnya: tikungan cepat disambar nyaris tanpa mengerem, setelah itu meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan dengan pedal gas dan pedal rem dikombinasikan dengan sangat pas. Di satu tikungan bernama Spoon, dia masuk dengan gas nyaris penuh, lalu mengerem di tengah tikungan dan sepersekian detik kemudian menggeber habis gasnya sehingga mobilnya tidak melintir. Itu masih ditambah dengan gerakan tangannya di roda kemudi, tangkas dan gesit menyentak ke kiri atau ke kanan supaya mobil edan itu tetap terkendali. Damon Hill yang ada di depannya disikat dari sisi luar menjelang tikungan pelan, kemudian dia tancap lagi menguber Schumacher. Sempat melintir keluar di tikungan ke kanan, tapi entah gimana mobil sialan itu kembali lagi ke tengah sirkuit setelah sempat berjalan mundur (pantatnya di depan). Saya sampai ketawa geli melihat adegan itu.

Alesi makin mendekati Schumi. Mobilnya bak kesetanan melesat mengiris setiap tikungan. Raungan mesinnya mendesing membuat miris yang melihatnya. Lalu tiba-tiba saja selarik asap putih keluar dari knalpot mobilnya. Penonton memekik, sang komentator juga tidak kalah kagetnya: mesinnya meledak! Aaahh,…. Habislah sudah perjuangan sang pembalap hebat ini. Mobil sialan itu perlahan menepi dengan asap tebal ngowos dari pantatnya. Alesi out of the race!

Sekelumit adegan itu menggambarkan kisah hidupnya di dunia balap. Pada awal tahun suatu musim, dia sebenarnya ditawari dua tim hebat, Renault dan Ferrari. Para pengamat sebenarnya meramalkan bahwa Renault akan lebih unggul daripada Ferrari, dan mengharapkan dia memilih Renault. Tapi ternyata Jean lebih memilih Ferrari! Semua ternganga. Nah, ternyata pilihan itu benar-benar apes: pada tahun itu Ferrari terseok-seok sementara Renault justru tampil cemerlang. Alesi gagal menjadi juara dunia, bahkan hanya sempat menang satu kali di Canada. Selebihnya, sampai akhir karirnya, dia tidak pernah lagi naik podium sebagai juara 1.

Penampilannya di trek, sekalipun dahsyat, juga penuh dengan kesialan. Di Australia, dia sempat memimpin beberapa lap, sebelum kemudian mobilnya mblebes mogok karena kehabisan bensin! Di Perancis, lagi enak-enaknya membalap, dia agak ngelamun sehingga melebar dan disalip lawan di belakangnya.

Sekarang Jean Alesi sudah pensiun dari dunia balap, tapi dunia akan selalu mengenangnya sebagai pembalap hebat yang sayangnya tidak pernah menjadi juara dunia. Hebat tapi sial. Untung dalam urusan memilih istri, dia sama sekali tidak sial. Ini gambar dia dengan istrinya yang dari Jepang. Hmm, pintar juga pembalap ini memilih wanita :

Pikir-pikir, saya pernah mengenal beberapa orang seperti Alesi ini. Bukan di dunia balap, tapi di bidang hidup yang lain. Ada yang pintar sekali, tapi ternyata gagal jadi Doktor. Ada yang ulet dan kreatif, tapi usahanya merugi terus. Jadi rupanya yang namanya nasib baik dan nasib sial itu ada juga ya?

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized