Senyum

Posted on March 26, 2012

0


Senyum itu sederhana, mudah dilakukan, tidak menyiksa otot wajah dan bibir, dan konon dipercaya mampu meluluhkan hati yang sedang marah. Senyum itu mampu meredakan suasana tegang, atau menyibak kebekuan. Namun orang bilang bahwa senyum, sekalipun nampak mudah, juga tidak akan terlihat renyah dan tulus manakala hati juga sedang tidak ramah. Hati yang tulus melahirkan senyum yang indah, hati yang dongkol melahirkan senyum yang kaku, sedangkan hati yang keras dan licik melahirkan senyum culas.

Saya menulis seperti ini karena saya sendiri adalah manusia yang dikenal pelit senyum. Sudah banyak kok yang bilang. Namun ada satu dua yang mengatakan sangat menyukai senyuman saya. Ya, mungkin justru karena pelit senyum itulah maka senyuman saya menjadi enak dilihat mata, setidaknya oleh beberapa gelintir orang yang mengatakan demikian.

“Smile,” kata seseorang kalau saya sudah mulai jengkel dan memasang tampang masam.

🙂 = icon yang sering saya terima dalam texting. Maknanya sama: senyuman, walaupun saya harus membayangkan sendiri si pengirim sedang tersenyum.

Kalau kita difoto, sang pemotret selalu mengatakan “Cheese . . . smile please!” supaya orang yang difoto memasang senyum manis sehingga foto tersebut jadi bagus dilihat. Tapi ada juga yang lebih suka memasang tampang cool ketika dipotret, karena menurutnya, senyumnya tidak bagus. Hmm, . . sebenarnya mana ada senyum yang tidak bagus? Sejauh senyuman lahir dari hati yang ceria dan tulus, senyuman siapapun akan terlihat manis.

Posted in: humanity