M to M

Posted on March 26, 2012

6


M to M

Ketika sedang membuka-buka posting saya setahun yang lalu, saya tertumbuk pada satu posting yang judulnya adalah nama seorang mentee saya. Mentee saya ini baru dua hari yang lalu menyapa saya lewat YM, mengabarkan dirinya sedang stress karena skripsi. ‘Napa stress?’ tanya saya. ‘Bingung, Pak, saya kan punya 2 pembimbing, kayaknya keduanya punya pemikiran yang berbeda, jadi saya stress ngikutin yang mana.’. Biyuh, kok kebangeten tho dosennya, saya membatin dalam hati. Baru membimbing anak S1 aja udah sok bikin bingung. Ngalah dikit emang napa? Kasihan mentee saya, dan kasihan juga mentornya, karena gara2 stress, dia jadi curhat ke saya pada saat saya sudah siap-siap mau pulang jam 6 sore.

Mentee saya yang satunya lagi juga sedang stress karena tugas akhir, tapi dia hanya nulis di FB, tidak sampai curhat ke saya. Satu lagi nampaknya sedang lancar jaya menggarap skripsinya setelah saya betulkan bahasanya beberapa minggu yang lalu. Mentee-mentee yang lain? Mene ketehek.

Entah saya yang tidak tahu, atau memang dugaan saya benar, tapi nampaknya kegiatan mentoring di lembaga ini sudah tewas dengan mengenaskan. Dulu kabarnya setiap lulusan akan mendapatkan kartu profil perkembangan karakter setiap semester, yang kemudian akan dijadikan satu menjadi semacam ringkasan karakter dan diserahkan ke setiap mahasiswa pada saat wisuda. Ternyata rencana itu tidak terwujud sama sekali. Dugaan saya, mereka terbentur pada kendala rumitnya logistik meringkas perkembangan karakter pada 12 aspek utama yang disebut 12 nilai itu. Lepas daripada itu, ada beberapa masalah yang sangat serius dan lembaga ini melakukan antisipasi dan respon yang tidak memadai sehingga akhirnya konsep mentoring itu mati:

1. Karyawan yang menjadi mentor karena dipaksa jelas tidak bisa menjadi mentor yang baik. Lha bagaimana mau memberikan panutan, kalau dirinya sendiri masih kacau? Bagaimana dia mau menjalankan fungsi mentoring dengan senang hati, kalau dia merasa terpaksa, sebenarnya tidak mau tapi terpaksa mau karena takut nilai ‘pengabdian pada universitas’ nya menjadi rendah?

2. Beban yang tidak realistis. Bayangkan, satu mentor bisa dibebani puluhan mentee dari berbagai prodi. Mana sempat mau memperhatikan secara intensif? Mana bisa secara obyektif menilai perkembangan karakter menteenya, kalau ketemu hanya sebulan sekali di kelas?

Lalu bagaimana sebaiknya? Kalau saran saya sih, bubarkan saja konsep mentoring terstruktur seperti itu. Biarkan semuanya berjalan alamiah, atau setidaknya berjalan dengan kendali minimalis saja. Yang perlu diasah adalah karakter dosen-dosen dan stafnya sehingga tindak tanduk mereka layak menjadi panutan. Lalu himbau mahasiswa untuk secara alamiah memilih satu figur dosen atau staf yang dia anggap cocok. Pilihannya juga nggak perlu harus satu, bisa lebih dari dua, tiga, terserah saja. Begitu sudah merasa mantap, pertemukan para mahasiswa dengan mentor pilihannya, dan himbau mereka untuk secara lebih intensif mengadakan sesi mentoring sehingga terjadi pertukaran pengalaman dan penambahan wawasan.

Kedua, hapuskan sistem penilaian karakter yang rawan dengan tingkat subyektivitas yang tinggi dan cara menilai berdasar ilmu pengawuran. Mau ndak ngawur gimana, kalau mentor jarang ketemu menteenya, nggak tahu perkembangannya kayak apa, tapi kemudian dipaksa menilai? Kalau saya punya puluhan mentee di prodi Akuntansi, misalnya, bagaimana saya tahu bahwa mereka tidak ngebut, main senapan, minum bir Guinness, atau mimpi jadi mafia? Perkembangan karakter itu ndak usah harus dinilai, ndak usah dipaksa harus muncul dalam bentuk penilaian juga, napa sih Universitas ini sukanya memaksa??

Sent from my iPad

Posted in: humanity