Wanita dan Sepatunya

Posted on March 21, 2012

0


Wanita dan sepatunya. Memang kenapa? Ya, unik aja, cukup layak untuk dijadikan bahan rasan-rasan di blog ini. Sebenarnya posting ini terilhami oleh seorang kolega yang langkah sepatunya selalu berdentam-dentam di lantai gedung Rektorat setiap pagi jam masuk kerja. Karena merasa tidak nyaman, maka saya pun kumat usilnya. Di FB (waktu itu masih Enjoy Myself gendheng itu), saya tulis begini: “AWas! Langkah sepatu woman Hitler berdetak-detak menuju kantor!”. Kontan Kaprodi Akuntansi ngakak membacanya. Siang-siang, dia berdiri di depan kantor saya dan memperagakan salut a la Hitler. Langsung saya tahu maksudnya dan gantian saya yang ngakak.

 

Saya memang agak risih melihat (dan mendengar) langkah sepatu wanita yang modelnya kayak gini:

 

Dari modelnya saja, sudah bisa ditebak sepatu model gini akan cukup menyiksa pemakainya. Tulang kaki yang ditekuk mengikuti lengkungan hak tinggi itu pasti akan sakit. Ya, sebenarnya kalo sakitnya mah emang gue pikirin, soalnya kan saya gak memakai, tapi disamping penampilannya yang terkesan mewah tapi judes, suaranya itu bok! Suara high heels yang membentur lantai ndak ada enak-enaknya blas tuh. Bayangkan ya, kita lagi enak-enak dengan khidmat mengikuti suatu acara seminar di gedung Theater Room, terus ada yang melangkah dengan sepatu kayak gini, cethak cethok meningkahi suasana hening.

Image

Nah, model sepatu yang juga tidak memberi kesan feminin sama sekali adalah sepatu Crocs. Semanis apapun seorang wanita, kalau sepatunya Crocs aduh udah deh, hancur. Saya masih ingat bagaimana saya dibuat kaget oleh seorang mahasisiwi di kelas saya. Cakep, tinggi, bajunya juga serasi,eh, sepatunya Crocs! Kok dia ndak ngerasa ya bahwa model sepatu yang melebar di bagian depan dan bolong-bolong itu sama sekali ndak match dengan wajah dan penampilannya.

Anehnya, sepatu buaya ini mahal. Mungkin emang nyaman dipakai. Buktinya anak-anak saya suka sekali memakainya, dibuat lari kemana-mana sampai jebol mulut buaya sialan itu. Nah, istri saya mencoba berjualan Crocs. Dia pajang di BBnya. Eh, laris manis! Saya lihat merek ini mengeluarkan model-model terbaru yang makin lama makin feminin dan lebih manis untuk kaki wanita. Ya, baguslah, soalnya waktu keluar pertama kali dulu juelek soro.

Jenis ketiga yang patut dikomentari adalah sepatu boot. Jenis kayak gini banyak modelnya, mulai dari yang paling sangar sampai yang agak tersamar karena sudah didesain sedemikian rupa sehingga terkesan lebih lembut. Wanita yang memakai sepatu boot menampilkan kesan mandiri, kadang agak misterius, dan mungkin juga menyukai benda-benda macho seperti senapan, mobil balap, atau kelompok mafia. Tapi saya ndak pernah mengenal wanita kayak gini di lingkungan saya.

Sepatu boot masih lumayan enak dipandang mata. Yang lebih menyakitkan mata adalah sepatu yang bagian solnya tuuebel. Kayak klompen atau bakiak modelnya, kadang-kadang ada tali temalinya. Istri saya bilang yang kayak gituan enak dipakai, walaupun fungsinya bisa ganda, yaitu dipakai mengulek sambal dalam keadaan darurat, atau melempar penjahat atau pria iseng. Blethak! Mantap wis.

Dari tadi mengkritik sepatu-sepatu, lantas yang saya sukai yang mana dong? Saya suka yang simpel, yang jelas haknya tidak tinggi dan runcing, atau solnya tebal soro. Haknya cukup rendah saja, atau bahkan datar. Wanita yang memakainya terkesan gesit, bukan tipe pesolek atau sok modis, dan lebih menonjolkan kualitas pribadinya daripada penampilannya.

Tipe lain yang saya juga suka melihatnya adalah yang berhak sedikit tinggi namun ndak lebay, dan terbuka, hanya ada beberapa tali sehingga menampilkan kaki sang pemakai. Kesannya sangat feminin, kalau ndak bisa disebut sexy, dan selalu modis, tidak pernah kelihatan jadul.

Hmm, saya lha kok malah nulis soal sepatu wanita tho ya? Ndak profesor banget deh. Yang jelas pria banget, halah! Tapi ya biar wis, kalau udah blogging semua topik yang merupakan akumulasi kesan dan pengalaman ya ditulis aja.

Posted in: Uncategorized