Khotbah Jangan Bikin Gerah

Posted on March 21, 2012

0


Saya agak gimanaaa gitu melihat berbagai acara siraman rohani di TV. Semuanya bagus; semuanya bermakna dan membawa pesan baik, tapi mengapa rasanya masih ada yang kurang?

Satu hal yang terasa kurang banyak disentuh dan diulas adalah dimensi horisontal suatu agama. Para pengkhotbah dan penceramah itu kurang sekali mengajak umat pendengarnya untuk mengamalkan pesan-pesan religius melalui tindak perbuatan dan sikap terhadap sesama. Bagaimana memandang dan memperlakukan sesama umat manusia yang sangat beragam itu? Bagaimana mengejawantahkan hukum cinta kasih kepada rekan, bawahan, murid, guru, orang tua, bahkan orang yang tak dikenal sekalipun? Umat Kristiani sering diajak oleh pendeta atau pastornya: “Cintailah musuhmu!”; nah, itu yang seperti apa? Bagaimana kita harus menerima kritik dengan bijaksana, atau berdebat tanpa harus bermusuhan? Bagaimana kita memaafkan? Bagaimana kita perduli terhadap manusia, entah dia itu ras Tionghoa atau Jawa atau Batak atau bahkan orang ateis sekalipun? Bagaimana kita menghargai sesama, tidak pandang perduli dia itu orang miskin, kumal, atau bahkan konglomerat maha kaya?

Para pengkhotbah dan penceramah agama itu sudah sangat bagus dan utuh menyajikan pesan bagaimana manusia harus membina hubungan dengan Tuhan. Ini dimensi vertikal. Ini bagus tapi belum cukup. Excellent but not sufficient, katanya Edward de Bono *). Kalau pesan itu terlalu banyak, apa mungkin itu yang menyebabkan tindakan-tindakan ganjil ini ya? :

1. Sekelompok orang memulai rapat dengan doa. Selesai doa, rapat dimulai dengan ketegangan, sebagian defensif, sebagian tak henti menyerang, sebagian lagi skeptis dan sebodo setan keputusannya mau kayak apa.

2. Sekelompok umat keluar dari tempat ibadah. Berdesakan keluar dengan mobil-mobil mewah, tak segan agak memepet kendaraan lain, dan ketika hampir menabrak sebuah sepeda motor tua yang tertatih-tatih menyebrang, dengan gampangnya mengucap “ Oo, . . . matamu!”

3. Seorang rekan melakukan penelitian edan: menganalisis status FB puluhan orang, dan sampai pada kesimpulan ini: banyak dari mereka yang status FB nya sangat rohaniah ternyata adalah orang-orang yang bermasalah besar dalam kehidupannya: “si A ini junkie; si B ini provokator di kampusnya; nah, si C ini lagi bermusuhan dengan dosennya; si D ini sudah bosan kuliah, bosan hidup, mau bunuh diri; lha, kalau si E ini, pernah masuk bui karena meng hack kartu kredit, dsb dsb…”

4. Hartanya miliaran, suatu ketika pabriknya menenggelamkan ribuan rumah orang kecil ke dalam lumpur. Terus menikahkan anaknya dengan pesta seharga jutaan dolar.

Umat memang perlu bimbingan. Dunia profan dan kehidupan super kompleks di era millenium kedua membuat mereka sesat orientasi, tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, terbentur-bentur dari satu nilai ke nilai lainnya, merasa yakin dengan satu norma kemudian bingung sendiri. Kalau sudah begini, kalau nggak dirinya sendiri yang dibunuh, sesamanya yang dikremus *).

Maka kita banyak berharap pada para pemimpin agama dan penceramah agama yang kita yakin masih bisa memandang dengan sangat bening bagaimana hubungan antar manusia harus dipelihara sesuai dengan pesan-pesan ilahi dari berbagai Kitab Sucinya. Maka mohon dengan hormat kalau khotbah jangan hanya mengajak manusia membina hubungan vertikal dengan Sang Maha Besar, namun ajarilah kami-kami ini bagaimana menjadi jauh lebih welas asih terhadap Bumi dan seisinya, jauh lebih hangat dan ramah dan perduli terhadap sesama manusia dari warna kulit dan budaya apa pun asalnya.

Post-note:

*)Edward de Bono adalah penulis buku-buku laris, seperti “Think”, yang sedang saya baca dan sangat mempengaruhi cara pikir saya setelah memasuki usia akil balik 40 tahun.

*) Dikremus (bahasa Jawa) = disergap dengan mulut penuh taring dan dikunyah sampai hancur.

Posted in: Uncategorized