Bahasa Inggris Sialan

Posted on March 20, 2012

0


Kemarin rapat dengan pimpinan puncak dan dua orang penasehat akademis. Topiknya: bahasa Inggris di kampus ini, quo vadis? Mau kemana?

Ini sudah jaman millenium ketiga, kok ya masih ada sih orang (baca: sivitas akademis) yang ndak bisa bahasa Inggris? Nggilani kon. Bentar lagi kiamat, belum juga bisa bahasa Inggris. Dengan sumber bahasa Inggris yang sa’arat-arat gitu, lho, kok ya masih ndak bisaaa, gitu lho?? Lagipula Bahasa Inggris itu apa sih sulitnya? Pola dasar kalimatnya sama dengan bahasa Indonesia: Subjek-Verba-Objek. Mau bilang: “aku makan nasi” ya kan tinggal “I eat rice.” Dengan sumber belajar yang begitu berlimpah di Internet plus textbook segala macam, saya kira kebangeten bener kalo seorang sarjana ndak bisa berbahasa Inggris.

Ungkapan kesal di atas bisa dimaklumi kalau saya menceritakan pengalaman saya membantu upaya peningkatan kemampuan bahasa Inggris di lembaga ini. Sekitar dua tahun yang lalu saya dan beberapa rekan melakukan pengabdian dengan menyelenggarakan kelas bahasa Inggris di beberapa prodi non-bahasa. Yaah, ternyata hanya efektif pada tiga atau empat kali pertemuan pertama, setelah itu pesertanya mrotholi satu demi satu sampai akhirnya tinggal seekor dan bubarlah kelas sialan itu. Tahun berikutnya saya masih belum mau menyerah, mencoba menawarkan kelas yang saya namai “English for Teaching” ketika masih menjadi kepala ELTISI. Cita-citanya mulia: membantu para rekan dosen supaya bisa mengajarkan kuliahnya dalam bahasa Inggris. Dari sekian puluh dosen, yang mendaftar 4 orang. Lalu menjelang pertemuan ketiga, satunya lenyap, tinggal lah 3. Untung yang 3 ini masih rajin bertahan, dan buktinya kemampuan mereka ya sedikit meningkat.

Jadi semua peserta rapat setuju bahwa kendalanya ada pada motivasi belajar, ya mahasiswanya, ya dosennya. Saya ceritakan kisah seorang dosen yang begitu idealis: pulang dari Aussie, mengajar mata kuliahnya dengan full Inggris. Eh, diprotes sama mahasiswanya, dibilang : “Kami ndak ngerti omongan Ibu. Tolong diterjemahkan aja.”. Dosen ini bingung, karena setahu dia, UMC ini kampus internasional, dus semua mata kuliah ya seharusnya diajarkan dalam bahasa Inggris, lha tapi kok malah diprotes? Akhirnya setelah konflik cukup lama, dia memutuskan untuk sedikit tunduk pada kemauan “rakyat”: dia memakai bahasa Inggris hanya untuk slides dan textbooknya saja, sedangkan kuliah dia sampaikan dalam bahasa Indonesia. Saya yang mendengar ceritanya hanya membatin: “Yah, okelah, daripada nggak sama sekali”.

Lalu keputusan rapat itu bagaimana? Ini kan nggak bisa hanya cerita soal masalah doang, kan harus diputuskan sesuatu.

Sekilas terlintas ide tak berperikemanusiaan: pecat semua dosen, lalu diseleksi ulang. Yang nilai kemampuan bahasa Inggrisnya di atas ambang standar akan direkrut kembali sebagai dosen tetap, yang tidak bisa lolos dipersilakan mencari pekerjaan di universitas lain . Maharunya juga diseleksi dengan cara serupa: harus lulus TOEIC mninimal 480, kurang daripada itu ditolak. Nah, gimana? Pasti akan efektif. Dosen dan mahasiswa yang sama-sama punya kecakapan Inggris memadai tidak akan keberatan dan kesulitan kalau harus melakukan pembelajaran memakai bahasa Inggris.

Usulan itu memang simpel dan efektif, namun harus diakui kejam. Terus bagaimana? Diterima atau ditolak? Ya ndak tahu, kan saya bukan pembuat kebijakan. Dalam rapat itu, saya hanya mengajukan pengalaman dan mengajukan saran, keputusannya ya terserah pimpinan puncak. Maka ya ditunggu saja.

Hmm, kembali ke bahasa Inggris. Disinyalir bahwa banyak yang tidak berbicara Inggris karena malu bahasa Inggrisnya jelek. Ya, harus diakui memang ada yang pathing pechotot tata bahasa, pengucapan maupun kosa katanya sehingga orang yang diajak bicara pasti akan pusing tujuh keliling; tapi sebenarnya lebih banyak yang bisa, hanya malu bicara. Kalau bicara dengan kesalahan tata bahasa yang tidak mengganggu makna sebenarnya ndak mengapa, tancap aja. Selama yang diajak omong mengerti dan manggut-manggut dan tidak mengerutkan kening, itu berarti pesannya tersampaikan. Contohnya pimpinan lembaga ini aja lah. Bahasa Inggris beliau diwarnai dengan beberapa kesalahan yang saya sampai hapal saking seringnya” “concerning about” (seharusnya “concerning” saja, atau “about” saja) , dan pengucapan “effort” yang keliru. Toh dia cukup pe-de dengan spoken Englishnya, dan kami yang diajak bicara sangat paham dengan maksudnya. Dengan kata lain, grammar dan pengucapannya memang masih mengandung kesalahan, tapi karena konteksnya, orang lain masih bisa mengerti maksudnya. Jadi pesan saya sebenarnya sederhana: ayo bondho nekad saja, pokoknya ngomong dulu. Kalau ada kesalahan, ya kita perbaiki bersama-sama lewat upaya peningkatan yang intensif.

Posted in: Uncategorized