Kristenisasi

Posted on March 17, 2012

0


Kristenisasi

Kata ‘Kristenisasi’ sama sekali tidak menyiratkan sesuatu yang membuat nyaman. Saya pertama kali mendengar kata itu ketika masih kuliah di S1 dulu. Karena saya kuliah di PTN, kata itu menjadi sangat sensitif. Bayangkan, seorang teman baik (beragama Muslim) suatu ketika dengan nada tidak enak bertanya kepada saya: ‘kamu melakukan Kristenisasi tah?’ Tentu saja saya menyangkal, dan agak menyayangkan kenapa teman baik saya bisa menuduh saya melakukan hal itu.

Saya merasakan tidak enaknya menjadi sasaran Kristenisasi. Lha barusan saya sedang enak-enak mau blogging, muncul dua wanita tua mengetuk pintu pagar. ‘Selamat siang,’ katanya. ‘kami senang memperkenalkan sebuah buku tentang masalah-masalah kita. Bukankah kita semua punya masalah? Kami dari Saksi Yehovah.’

‘Oh, saya Katolik’ jawab saya sekenanya.

Ternyata Ibu itu belum menyerah. Dia masih bersikeras mau memperkenalkan bukunya. Hmm,…kenapa ya mereka ini tidak punya empati sama sekali? Apakah Tuhan mereka mengajarkan seperti itu? Look, ladies, saya sedang bersantai. Saya tahu saya manusia pendosa, sama seperti Anda juga, tapi saya tidak sedang butuh nasihat-nasihat panjang lebar tentang surga dan neraka! Nanti kalau saya butuh, saya akan minta nasihat, tapi yang jelas tidak ke gereja Anda.

‘Wah, maaf, saya sedang sibuk,’ akhirnya saya terang-terangan, walaupun masih dengan nada sangat sopan. Nah, ternyata manjur. Kedua Ibu yang bak malaikat kesiangan itu akhirnya pamit. Fiyuuh, kasian, sudah kesiangan salah alamat pula.

Saya heran, apa harus sampe segitunya menyebarkan firman Tuhannya? Seandainya saya adalah orang beragama lain aliran garis keras, apa mereka ndak ngeri kalau saya usir dengan kasar?

Ayah saya contohnya. Katolik fundamentalis. Suatu ketika dia kedatangan tamu seperti itu yang belum apa-apa sudah nyerocos soal Kitab Suci dan bagaimana hidup Kristen. Celaka, ternyata ada satu poin yang memang selama ini menjadi titik konflik antara umat Kristen dengan Katolik. Kontan ayah saya gusar dan akhirnya berdebat agak seru dengan si agen Kristen sialan itu.

Maka jangankan orang beragama Muslim yang gerah dengan praktek seperti ini, sayapun yang juga menyembah Nabi yang sama dengan para agen itu juga merasa tidak nyaman. Lha siapa yang senang dikhotbahi seperti itu, dan kemudian ujung-ujungnya ‘dipaksa’ secara halus mengakui Juru Selamatnya? Kalau Anda sudah mengakui Buddha sebagai juru selamat Anda, apa ya merasa nyaman mendengarkan ajakan terselubung untuk mengakui Yesus sebagai satu-satunya juru selamat umat manusia?

Saya juga tidak habis pikir tentang cara pikir mereka yang melakukan praktek ini. Asumsi mereka pastilah bahwa orang lain masih sesat, sehingga perlu mereka sadarkan lewat ceramahnya tentang Yahwe. Nah, asumsi itu salah besar bukan? Apa mereka tidak sadar bahwa setiap orang sudah memeluk agama dan kepercayaannua sendiri-sendiri, dus tidak perlu lagi dicarikan Nabi juru selamat yang baru? Ataukah mereka memang dengan sengaja ingin membuat orang beralih dari agama dan keyakinannya? Kalau iya, ya pantas kalau mereka cenderung ditolak, bahkan dimusuhi oleh banyak orang.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized