Gadget Kita Nyawa Kita

Posted on March 13, 2012

0


Jaman sekarang, semboyan berikut ini patut dicermati: “Sebulan tidak membawa atau membuka Kitab Suci ndak masalah; tapi sehari saja lupa membawa ponsel atau BB, alamaak, matilah aku!”.

Puluhan tahun yang lalu ketika saya masih kuliah, saya kemana-mana hanya berbekal helm dan dompet yang isinya SIM C dan beberapa lembar ribuan. Pada saat itu rasanya ya baik-baik saja. Kalau ada seorang teman mau menghubungi saya, dia akan menelpon saya, dan paling-paling orang rumah saya akan mengatakan: “Oh, dia sedang keluar. Nanti aja telpon lagi kalau dia sudah pulang.”

Ketika jaman makin modern, semua informasi dan jalur koneksi dengan manusia lain dijejalkan menjadi satu dengan sangat rapi dalam alat kecil yang namanya ponsel atau Blackberry. Sekarang ungkapan di atas akan berganti menjadi: “Oh, dia sedang keluar. Hubungi saja ke hapenya atau BB nya.” Maka itu, ketika saya bekerja di Surabaya, saya langsung lemas begitu sampai di kantor dan mendapati bahwa ponsel saya ketinggalan di kamar kos. Rasanya seperti separuh nyawa saya melayang ketika bekerja seharian di kantor tanpa ponsel. Benar saja, begitu malam harinya saya sampai di kos lagi, saya lihat sudah banyak sekali sms dan miscall di ponsel saya. Ada yang sekedar bertanya kenapa kok ponsel tidak diangkat, sampai ada yang agak jengkel karena ternyata dia menagih pekerjaan yang belum saya selesaikan selewat deadline.

Begitulah, manusia jaman sekarang menjadi sangat tergantung pada gadgetnya. Setelah saya renungkan, memang tidak salah kalau kita panik saat menyadari bahwa gadget kita tertinggal di rumah, karena ternyata gadget modern menyimpan banyak sekali informasi vital untuk menjadikan kita berfungsi. Di gadget yang besarnya tidak lebih dari telapak tangan itu, tersimpan berbagai macam informasi, mulai dari nomer telpon rekan, agenda harian, bahkan sampai password beberapa komputer di tempat kita bekerja.

Nah, karena gadget itu sudah menjadi sedemikian fungsional, kadang-kadang fungsinya melebihi sentuhan manusiawi. Benda itu seolah menjadi bernyawa sungguhan dan menjadi teman bicara yang sangat mengasyikkan. Saya kira sudah jamak kita mengalami hadir dalam satu ruang waktu bersama manusia-manusia lain, namun yang kita dapati adalah setiap manusia itu sibuk dengan gadgetnya sendiri-sendiri. Benarlah adagium Blackberry: “menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh”. Jaman dulu, kalau ada sekelompok manusia hadir, mereka akan saling menyapa kemudian terlibat obrolan ringan; jaman sekarang, kalau mereka hadir bersama-sama, masing-masing kemudian lebih suka berinteraksi dengan gadgetnya sendiri.

Memang paling menyebalkan kalau kita bicara dengan seseorang namun dia lebih sibuk dengan ponsel atau BB nya. Untung yang beginian nyaris tidak pernah saya lakukan, atau saya alami. Saya masih ingat didatangi seorang mahasiswa untuk konsultasi. Tengah saya berbicara kepadanya tentang naskah tesis S2 nya, dia sibuk membaca sms yang tak hentinya masuk ke ponselnya. Tanpa sadar saya berhenti bicara dan memasang wajah tidak enak. Dia seketika berhenti membaca ponselnya dan langsung menjatuhkan ponsel itu ke dalam tasnya. “Maaf, Pak,” katanya.

Namun ada juga yang sangat sopan. Setiap kali dia harus membaca pesan singkat atau menjawab telpon di ponselnya, dengan santunnya dia akan berkata: “Permisi ya, Pak, saya baca sms dulu.” Wah, benar-benar tahu tata krama anak ini.

Demikianlah, gadget sudah menjadi bagian dari hidup manusia di jaman modern. Sama seperti benda lainnya, dia menjadi pisau bermata dua: satu untuk kebajikan dan efisiensi, satunya lagi untuk mengasingkan manusia dari manusia yang lainnya.

Posted in: Uncategorized