Kenangan Manis dengan Seorang Mentee

Posted on March 10, 2012

0


Ketika menjadi mentor antara tahun 2008 sampai sekitar awal 2010, saya punya pengalaman mengesankan dengan seorang mentee. Hubungan kami bermula dari kedekatan seperti seorang bapak dan anaknya. Dia begitu dekat dengan saya, sedemikian dekat sehingga kadang-kadang hubungannya seperti teman sebaya. Saya masih ingat suatu ketika saya chat YM dengan dia. Dari pertanyaan biasa, berkembang menjadi guyon yang agak keterlaluan, sampai dia berani mengatakan “anjing!” kepada mentornya. Karena suasananya guyon, umpatan itu saya sambut dengan senyum lebar dan balasan yang tambah gak karu-karuan lagi.

Tapi menjelang tahun 2009, suasana berubah. Entah kenapa, mendadak sikapnya berubah tanpa saya mengerti sepenuhnya kenapa. Puncaknya terjadi ketika selesai acara CB 4. Dia maju ke mimbar di depan banyak orang dan mengatakan sesuatu yang sungguh membuat telinga saya panas. Rupanya dia memendam suatu ketidakpuasan di kelompok mentoring yang saya asuh, tapi alih-alih membahasnya dengan kepala dingin di kelompok, dia malah meledakkannya di depan semua orang. Semua langsung tahu siapa dia dan siapa mentornya, karena baik saya maupun dia termasuk orang tenar di lembaga ini (yah, kalau ini mah agak lebay tapi kayaknya benar deh).

Sejak saat itu hubungan kami menjadi dingin, bahkan tegang. Saya sudah tidak mau menyapanya lagi ketika kami berpapasan di tengah jalan. Akun FB nya saya unfriend. Celakanya, hubungan yang memburuk itu tercium oleh mentee-mentee lain, dan mereka langsung ikut prihatin. Saya merasa bersalah juga: “yak apa ini mentor kok malah musuhan sama menteenya? Kan ya sama sekali tidak pantas diteladani?” Tapi karena ego saya kelewat tinggi, saya malas menyapa duluan. Dia, mungkin juga karena merasa tidak nyaman, beberapa kali mengirimi saya e-mail mengajak bicara. Entah gimana, rencana bicara itu tidak pernah terwujud.

Hubungan yang dingin berlangsung sampai setahun lebih. Sampailah pada malam pergantian tahun ke 2011. Seperti biasa saya menerima banyak ucapan selamat dari rekan maupun murid. Tapi kok ada satu yang tanpa nama, hanya nomer doang? Ketika saya tanya “ini dari siapa?”, jawabannya membuat saya terhenyak. Ternyata sang mentee itu yang mengirimkannya . . . (ketahuan sifat jelek saya: kalau sudah kesal sama seseorang, nomer ponselnya langsung saya hapus dari ponsel saya).

Sms itu kemudian menjadi awal dari titik balik hubungan kami. Beberapa hari setelah liburan usai, dia meminta saya untuk bisa bertemu dengannya, dan saya sambut dengan senang hati. Kami berbicara secara blak-blakan di depan kelas Spheroidene yang sepi karena masih liburan semester. Kami ungkapkan semua yang menjadi sumber kejengkelan kami satu sama lain. Semuanya serba terus terang, namun tidak konfrontatif, kami bicara dengan nada rendah dan saling mendengarkan. Dari dialog itu saya jadi tahu hal apa yang membuatnya kesal sama saya, dan demikian juga dia.

Satu hal yang dia katakan dan sangat berkesan buat saya adalah ini: “saya juga tidak pernah mau cari masalah sama siapapun, kok, Pak”. Yang mengharukan, dia juga bercerita bahwa kalau dia berpapasan dengan saya, dia sebenarnya berusaha untuk menyapa, namun langsung urung karena dia melihat saya cuek abis. Yah, kalau ini mah udah penyakit kronis . . .Bad attitude.

Demikianlah, sang mentor kembali berbaikan dengan sang mentee. Kami kembali saling berinteraksi seperti biasa. Hebatnya, mentee-mentee yang lain juga tahu hal ini, dan beberapa dari antaranya bersorak: “Horeee! Mentorku sudah berbaikan sama si A!”. Hmm, saya terenyuh. Anak-anak ini sekilas cuek, namun mereka ternyata perduli sekali dengan masalah yang melanda kelompok mentoringnya.

Satu hal yang saya rasakan berbeda adalah cara dia berinteraksi dengan saya. Dia menjadi sangat berubah, jauh lebih sopan dan formal dibanding ketika dulu masih awal menjadi mentee saya. Saya tidak tahu mengapa, tapi sekilas memang dia pernah mengatakan bahwa kalau dia akhirnya berbaikan dengan saya, dia “tidak akan seperti dulu lagi”. Yah, saya maklumi, walaupun dalam hati saya sebenarnya mengharapkan dia bersikap lepas dan santai saja, seperti ketika dia memaki saya “anjing!” ketika guyon-guyon gendheng dulu. . . .

Hal terakhir yang dia minta dari saya minggu lalu adalah mengoreksi naskah skripsinya. “Saya ingin Bapak membetulkan kalimat-kalimat saya,” katanya. Saya dengan senang hati menyanggupi, dan tidak lebih 3 hari saya koreksi naskah skripsinya. Dia membalas dengan ucapan terima kasih lewat FB.

Juli menjelang dengan cepat. Dia akan segera lulus dan setelah wisuda, saya tidak akan melihatnya lagi. Saya, karena alasan yang sangat pribadi, juga sudah mengajukan permohonan berhenti sebagai mentor. Sepanjang usia menjadi mentor yang hanya seumur jagung itu, saya merasa itu adalah pengalaman paling manis dengan seorang mentee. Itu adalah sepenggal pengalaman yang memberi saya beberapa hal untuk diresapi, direnungkan dan dijadikan bahan refleksi untuk membuat saya menjadi manusia yang lebih baik.

Catatan: mentee ini seorang mahasiswa (baca: cowok)

Posted in: Uncategorized