Cerewet di Penjaminan Mutu

Posted on March 9, 2012

0


Kemarin saya menghadiri sosialisasi evaluasi kinerja pejabat struktural yang diselenggarakan oleh mantan kantor saya, yaitu QA. Setelah sesi penjelasan, disediakan sesi tanya jawab. Ternyata saya mendapati bahwa saya menjadi banyak bertanya dan beberapa kali memberikan saran.

Begitu menjelang selesai, baru saya sadar. Kenapa saya jadi cerewet kayak gini? Ndak biasanya loh. Nah, jangan-jangan orang berpikir begini “Mentang-mentang dulu jadi atasan di QA, sekarang begitu mantan anak buahnya menyajikan gagasannya, jadi cerewet. Rupanya masih merasa direktur QA kau bah!”

Hmm, apakah itu gejala post-power syndrome?

Ternyata jawabannya sederhana: saya tidak sedetikpun ingin menggawangi kembali pos di QA itu. Kecerewetan saya kemarin karena ternyata dalam hati saya perduli dengan yang namanya penjaminan mutu. Nah, justru karena saya perduli itu, maka saya banyak tanya ini itu, menyarankan satu dua hal, bahkan mengkritik (“lha ini gambaran profilnya minim sekali, jadi ya saya kasih NA semua”).

Nah, saya bisa saja bersikap diam saja. Tapi nanti orang akan menafsirkan sikap saya itu sebagai apatis, sesuatu yang dikatakan oleh bos QA sebagai sikap “whatever lah . . “. Ya memang benar. Kalau saya diam saja dalam suatu rapat, itu ada dua kemungkinan: saya sudah menyetujui semua yang dikatakan, atau saya apatis. Atis apatis. Celaka lah kau!

Lebih elek lagi kalau saya sudah benar-benar eneg dengan apa yang dibicarakan, saya akan melakukan sesuatu yang banyak dikutuk oleh para dosen di kelas: membuka BB dan sms an atau chat BB atau membuka situs-situs favorit. Ya, saya tahu ini tindakan terkutuk, dan untungnya saya tidak sering melakukannya. Tapi kalau ada yang melihat saya asyik BB an dan sms an ketika di rapat, percayalah, itu berarti saya sedang sebel abiss sama forum rapat itu. Kenapa sebel? Biasanya karena ada satu peserta yang terlalu mendominasi rapat sehingga yang namanya interaksi menjadi hanya satu arah. Agenda dia yang susun, permasalahan dia yang ungkapkan, solusi juga dia yang ungkapkan. Sulit sekali menyela atau meminta kesempatan untuk memberikan saran atau komentar, apalagi kritikan. Nah, daripada memancing konflik dengan menyela, mending BB an aja toh??

Posted in: Uncategorized