Film Bisu Menang Oscar dan Bahasa Tubuh Kita

Posted on March 8, 2012

0


Aktor pemenang Oscar tahun ini adalah Jean Dujardin, seorang aktor Perancis yang bermain dalam sebuah film bisu arahan sutradara Hazanavicius berjudul “The Actor”. Sang sutradara ini akhirnya juga mendapat Oscar untuk film itu. Hebat sekali! Bayangkan, di jaman informasi dan multimedia ini, sebuah film bisu mampu menjadi pemenang Oscar!

Kekuatan film itu terletak pada kepiawaian akting para bintangnya. Diceritakan suatu scene dimana sang aktor ini sedang bertengkar dengan istrinya. Tanpa kata-kata sedikitpun, Jean mampu membuat penonton merasakan kekecewaan, kemarahan dan kejengkelan sang aktor lewat raut mukanya, tatapan matanya, sampai hal-hal sekecil gerak alis dan sudut bibirnya. Luar biasa!

Para penonton yang melihat film itu haruslah setidaknya mampu menghayati perasaan manusia lewat bahasa tubuh dan air mukanya, tanpa harus mendengarkan kata-katanya. Penasaran, saya mencoba sendiri dengan mematikan suara sebuah film yang sedang saya tonton di TV. Ternyata, kebisuan yang melanda suasana mampu membuat saya jadi “terpaksa” peka terhadap setiap perubahan bahasa tubuh dan rona muka sang pemain film. Saya jadi tahu kapan seseorang berapi-api, dingin, bersemangat, khawatir, atau bahkan geram.

Sebenarnya dalam dunia sehari-haripun kita juga dihadapkan pada situasi serupa. Ada pendapat yang mengatakan bahwa sekitar 60% dari maksud kita akan terungkap lewat bahasa tubuh kita, dan sisanya yang 40% diungkapkan lewat kata-kata kita. Maka kalau kita sangat peka, kita akan tahu apakah sebuah ucapan “bagus!” sedang diucapkan dengan tulus atau hanya basa-basi saja.
Ada seorang yang sangat cermat melihat perubahan wajah saya ketika sedang berbicara dengan saya. Kalau saya sedang tidak enak hati, tanpa sadar air muka saya berubah, dan bagaimanapun rapatnya saya mencoba menyembunyikannya, dia pasti akan langsung berkomentar: “Kok air mukanya jadi nggak enak gitu sih?”. Nah, lo . . .

Sebaliknya, kalau kita tidak peka akan perubahan nuansa non-verbal ini, maka kita akan nyerocos terus tanpa tahu bahwa kata-kata kita membuat lawan bicara kita menjadi sebal atau bahkan sakit hati. Celakanya contoh yang paling dekat adalah saya sendiri. Suatu ketika, dengan nada gusar saya mengatakan kepada seseorang: “Selesaikan skripsimu segera! Kalau sampai Februari belum selesai juga, kamu tahu apa yang akan saya lakukan!”. Saya masih berbicara bla bla lagi, ketika mendadak dia langsung pamit dan keluar dari ruang saya tanpa pernah mau menengok lagi . . . Nah lo!

Saya kira, apapun profesi kita, entah sebagai dosen, atau salesman, atau pramuniaga, atau apa pun, kita sebaiknya mampu membaca perasaan orang lain lewat bahasa tubuh mereka. Salah satu kunci sukses dalam pergaulan adalah membaca bahasa tubuh orang lain dengan jitu dan menyelaraskannya dengan maksud kita sehingga tercapai harmonisasi tujuan atau cara mencapai tujuan tersebut.

Jawaban pendek dan datar : “saya dengarkan tapi sebenarnya saya tidak tertarik omonganmu”

Pandangan beralih dari mata ke tempat lain: “saya malas membicarakan hal itu”, atau, “maaf, saya sedang berbohong!”

Pandangan yang terkesan melekat dan diiringi seulas senyum: “saya tertarik pada Anda”.

Mata berbinar: “wow! Anda baru saja mengungkapkan sesuatu yang saya sangat setujui”.

Mata menatap kosong: “sudahlah, berhentilah berceramah! Saya sudah bosan mendengarkanmu nggedabrus dari tadi”.

Posted in: Uncategorized