Saya Ngeri Sama Yang Freak Out

Posted on March 6, 2012

0


Saya sudah membunuh Enjoy Myself di FB. Ya, sekarang memang masih hidup, tapi sudah ndak ada omongannya. Kenapa? Karena saya ngeri sendiri melihat apa yang saya tulis di akun FB itu. Sangat spontan, sangat kritis, dan tidak jarang kasar. Ya memang saya tidak bisa melihat siapa-siapa saja yang merasa tersinggung atau ngeri melihat ungkapan-ungkapan seperti itu keluar dari tangan seorang dosen. Tapi saya yakin pasti ada. Dan itu membuat saya ngeri, sampai akhirnya memutuskan per Jan 2012 saya tidak lagi berulah lewat Enjoy Myself.

Saya bisa merasakan sendiri betapa bulu kuduk saya merinding membaca status-status rekan atau teman atau mahasiswa di jejaring sosial kalau mereka sedang marah atau emosional. Bayangkan, ini adalah orang-orang yang sehari-hari berinteraksi dengan saya dengan bahasa yang halus, sopan, penuh tata krama, dan beberapa bahkan menjabat pula! Tapi begitu melihat ungkapan emosinya entah itu di Twitter atau di FB, Yahoo Messenger atau Blackberry, saya merasa ngeri. Terlintas di benak saya: “marah ya marah, mau selingkuh ya sana, urusanmu, mau makan orang ya sana, tapi mbok ya jangan dimuntahkan ke jejaring sosial, gitu lho! Aku yang mbaca ini jadi merinding membacanya!”. Bayangkan, tengah malam membaca status di BB: “Fuck you! Shit!” dsb dsb. Astagaaa, . . . !

Saya bayangkan jaman saya dulu ketika kuliah. Apa jadinya perasaan saya sebagai mahasiswa kalau tahu seorang dosen yang saya segani ternyata mengumpat dengan kata-kata kasar di majalah dinding kampus (soalnya waktu itu kan gak ada gadgets kayak sekarang). Mungkin saya akan kehilangan respek sama beliau. . . .

Atau bagaimana perasaan saya kalau misalnya saya sedang berguru kepada seorang guru spiritual, kemudian suatu hari mendapati ungkapannya di Facebook melampiaskan perasaannya terhadap orang tidak berTuhan: “You fucking atheists! You’ll get your assholes burned in hell!”. Wadaowww. . . . saya bisa shocked!

Makanya, saya akhirnya tidak berkoar lagi di Enjoy Myself. Gak baik dibaca orang. Sekarang saya masih memelihara akun di FB, namanya Patrisius Djiwandono. Apa yang saya tulis disitu? Decent stuff, alias hal-hal biasa dan syukur kalau bisa memberi inspirasi. Gak percaya? Coba lihat deh status saya terbaru di akun FB itu. Nah, kaaan? Sopan kaaan?? Baik kan? Ha ha haaa!

Status BB saya dari dulu tidak berubah: “Jesus loves me”. Itu semacam doa buat saya.

Saya setuju dengan pendapat seorang lulusan lembaga ini: jejaring sosial itu media publik, bukan media pribadi. Ya kurang lebih sama seperti public toilet lah; sekilas pribadi, tapi sebenarnya dipakai banyak orang. Ya masak kita mau meninggalkan kotoran di fasilitas yang kita tahu akan dipakai orang lain itu? Di jejaring sosial, jangan heran kalau melihat saya terbengong-bengong membaca statusnya orang-orang. Hampir sebagian besar isinya ungkapan perasaan. Ada yang marah-marah entah ke siapa, ada yang meratap-ratap entah karena masalah apa, ada yang ketawa ketawa sendiri entah karena apa. Pokoknya sebagian besar isinya ungkapan perasaan dari freaking out people (freak out = marah-marah histeris). Maka karena tak tahan, saya tulis status: “Sometimes I read FB statuses and cant help wondering: what the hell are you talking about?”

Tapi saya lupa bahwa jaman sudah berubah. Apa yang dianggap saru (=tidak elok) jaman dulu mungkin sudah harus dianggap lumrah jaman sekarang. “Orang bebas mengeluarkan pendapatnya dalam bentuk apapun dan dimanapun; siapapun dia dan apapun jabatannya.” Mungkin begitu lah adagium jaman sekarang.

Tapi saya tetap aja ngeri. . . . hiiiiiihhhh . . .

Posted in: Uncategorized