Selepas Kuliah

Posted on March 3, 2012

0


Selepas Kuliah

Tahu rujak cingur di jl. Mentawai? Itu tempat makan favorit keluarga saya. Walaupun tempatnya sempit, tapi rujak cingurnya memang lezat, belum lagi es dawetnya. Ketika saya makan disana suatu hari, ternyata yang melayani adalah seorang mahasiswa saya. Rupanya orang tuanya adalah pemilik kedai itu. Beberapa tahun kemudian, ketika saya tahu dia sudah lulus, saya makan lagi di tempat itu, dan saya masih menjumpainya membantu papa mamanya menyajikan rujak cingur ke pelanggan.

Diam-diam saya membatin : ‘young man, kamu kuliah di jurusan manajemen empat tahun, lalu setelah lulus, hanya sampai disinikah riwayat karirmu? Membantu ortu berjualan rujak cingur. Kenapa kamu tidak menjadi staf manajemen di perusahaan terkenal di ibukota?’

Itu pertanyaan polos seorang dosen, yang masih saja mempunyai harapan bahwa setelah mahasiswanya lulus, mereka akan bekerja di lembaga-lembaga profesional, dan bukannya bertahun-tahun membantu usaha ortunya dan mandeg tidak kemana-mana. Lha, kalau hanya untuk membantu ortu kan sebenarnya ndak usah kuliah tho?

Pertanyaan polos itu terlintas di benak saya ketika saya masih idealis, usia saya juga masih awal 30 an ketika itu. Sekarang, saya sudah jauh lebih realistis. Saya tahu sekali tidak semua mahasiswa saya atau mentee saya akan menjejaki alur yang sudah diprogram oleh lembaga pendidikan tinggi: kuliah, lulus, lalu melamar kerja, dapat kerja, dan merintis karir sampai sukses menjadi pimpinan, atau bahkan sukses membuka usaha sendiri. Sebagian memang akan seperti itu, tapi sebagian juga akan menyimpang jauh dari cita-cita itu. Tak sedikit yang kemudian mengubur ijazahnya dan beristirahat dengan tenang sebagai istri dan ibu rumah tangga. Tak sedikit pula yang kemudian bekerja di tingkat yang jauuh dari kapasitasnya sebagai sarjana, atau ya, seperti mahasiswa saya itu, membantu usaha orang tuanya sampai puluhan tahun kemudian. Ya, saya menyikapinya dengan realistis. Itulah hidup. Setiap orang punya agenda hidupnya sendiri-sendiri, punya jalan nasibnya sendiri-sendiri yang tidak senantiasa sejalan dengan jalur pendidikan yang ditempuhnya selama bertahun-tahun.

Saya punya catatan khusus tentang seorang mahasiswi di Sastra Inggris yang saya ramalkan akan menjadi orang sukses kelak. Dia punya semua syarat yang dibutuhkan untuk menjadi sukses di jaman edan ini: semangat meluap-luap (sampai dia pernah beberapa kali tertidur di kelas saya karena terlalu capek mengurusi kegiatan ekstrakurikuler), jejaring sosial yang luas (kenalannnya mulai dari mahasiswa dari prodi lain, rekan-rekan ayahnya, sampai kelompok-kelompok seni di Malang), punya bakat seni yang terus diasahnya, plus kecakapan interpersonal yang sangat baik. Prestasi akademiknya sih biasa biasa saja, tidak istimewa. Tapi dengan bekal non-akademis seperti itu, saya yakin sekali dia akan menapaki jalan sukses yang jelas setelah lulus. Akan menjadi apakah dia? Saya juga tidak tahu, karena dunia jaman sekarang memungkinkan orang untuk menggeluti profesi-profesi yang jaman dulu tidak pernah terpikirkan: penulis blog, kolektor seni, perancang situs web, motivator, pemasar multi level, makelar real estate, penerjemah, koordinator budaya antar bangsa, pengelola event, dan banyak lagi, begitu beragamnya sampai kadang-kadang tidak ketahuan namanya saking unik dan spesifiknya pekerjaan itu.

Mana lebih baik, menjadi lulusan yang akhirnya hanya tinggal di rumah membantu usaha orang tua, atau yang akhirnya berkiprah secara mandiri, atau yang akhirnya merintis karir di dunia profesional dan menjadi eksekutif utama? Pada dasarnya, tidak ada satupun dari antaranya yang jelek. Semuanya adalah kepingan mosaik yang unik dan memperkaya warna dan dinamika hidup ini.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized