Weeekss. . . .

Posted on March 2, 2012

0


Saya masih harus banyak belajar menjadi pemimpin. Sewaktu saya mengikuti pelatihan kepemimpinan di Jakarta, hasil tes menunjukkan bahwa saya ternyata tergolong pemimpin yang kurang kolaboratif, dan kurang bisa mempercayai bawahan. Ternyata benar. Saya, tanpa sepenuhnya sadar, ternyata cenderung suka menuntaskan suatu misi mulai dari bikin proposal sampai pelaksanaan sampai laporannya secara single fighter, padahal saya dikelilingi oleh Wadek, Kaprodi, sampai staf admin yang sebenarnya bisa mengambil sebagian dari tugas itu. Nah, ini saya sedang susah payah dalam proses melahirkan sebuah jurnal fakultas. Ternyata sudah beberapa minggu ini saya berkutat sendirian dengan pekerjaan mulai menulis panduan penerbitan sampai menyunting sendiri artikel-artikel yang masuk. Dodol! Kalau begini caranya bisa ndak sehat nih organisasi. Maka pagi ini sebelum rehat makan siang, saya bagi-bagikan pekerjaan yang lumayan menguras tenaga itu ke staf-staf saya.

Siang, saya keluar dengan pak DG, rekan saya se prodi. Kami menuju ke sebuah rumah makan kecil namanya Mandala di turunan menuju ke STIKI. Tidak ada waktu yang lebih pas kecuali hari Jumat seperti ini, dimana saya free mengajar, dan bisa ngobrol santai dengan rekan sebaya. Tentu obrolan itu menjadi makin nikmat karena kami juga membumbuinya dengan beberapa batang Gudang Garam, plus guyonan-guyonan segar yang membuat saya bisa tertawa setelah semingguan kerja tanpa senyum di kantor. Lhoh, kok ngerokok lagi? Ya, sekali-sekali ndak apa-apalah, kan dalam rangka menemani kolega yang juga suka merokok. Ini yang namanya “socializing smoker”. Hmm… nikmat juga… puff….pufff…

Tengah enak-enaknya ngobrol dan ngebul, tahu-tahu Pak DG bilang: “Wah, ada Ibu datang!”. Saya menoleh. O mai gaawd, pimpinan tertinggi lembaga saya datang bersama suaminya. Pak DG beruntung, karena pada saat Ibu datang, dia sudah mematikan rokoknya di asbak, sementara saya masih berkepul-kepul. Cialat dah! Saya membalas sapaannya sambil tersenyum, sambil mengepit rokok sialan itu di paha saya. “Nggak apa-apa wis, kepalang basah,” pikir saya. “Lagipula ini kan di Mandala, bukan di Ma #$%^ yang memang bebas rokok. Maka setelah dia duduk, saya teruskan merokoknya.

Pak DG ini kandidat Doktor. Kami banyak berbincang tentang proyek disertasinya, termasuk anekdot lucu-lucu sekitar menjadi calon Doktor. Hmm, dalam waktu tiga tahun ke depan sebelum saya “turun takhta” (itupun tergantung saya, kalau masih seneng ya ndak turun-turun lah), fakultas saya akan mempunyai dua doktor baru. Jadi totalnya 4 dengan saya. Hmm, cukuplah modal untuk membangun sebuah program pasca sarjana.

Sang Ibu berlalu dari resto itu. Begitu bayangannya lenyap, Pak DG meraih lagi bungkus rokoknya. “Lanjut, bro?” tawarnya. Yeah, lanjuuut . . . ha ha haaa!

Happy weekend. . . . weeekss . . .!

Posted in: Uncategorized