Sentuhan Manusiawi

Posted on February 29, 2012

0


Sentuhan Manusiawi

Dalam perjalanan jauh ke Cambodia saya mengamati berbagai profesi yang saya jumpai di jalan. Sopir tuk tuk, pramugari, pilot, penjual makanan di pinggir jalan, pelayan di restoran, petugas imigrasi, masih banyak lagi. Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa pekerjaan sebagai petugas imigrasi yang kerjanya memeriksa paspor ratusan penumpang pesawat itu adalah pekerjaan yang paling menyiksa.

Bayangkan, mereka harus duduk di kotak pemeriksaan itu berjam- jam. Tugasnya memeriksa barang yang sama: buku paspor dan beberapa lembar imigrasi. Orang yang mereka hadapi silih berganti, tapi tak pernah harus bicara. Pertanyaan dan instruksi yang mereka ajukanpun sama, sama sekali tak ada keramahan, basa-basi atau kehangatan hubungan antar manusia disana. Habis selesai satu orang, orang satunya, orang satunya lagi, teruus saja begitu dari waktu ke waktu. Maka tak heran petugas-petugas ini tidak menampilkan kesan ramah atau luwes. Kebanyakan berwajah kaku, dingin. Saya bisa membayangkan betapa tidak enaknya harus seperti itu. Begitu rutin, tak ada variasi, begitu minim interaksi, dan terus menerus.

Tapi sebenarnya mana ada pekerjaan yang tidak mengandung rutinitas? Kalau dipikir, semuanya pasti rutin: pramugari yang setiap kali memperagakan teknik pengamanan diri, kasir yang menerima uang dan memberikan kembalian, pilot yang hanya berhadapan dengan instrumen di kokpitnya. Tapi dari segi interaksi manusiawi, mungkin jadi guru lebih enak ya? Pada setiap mata kuliah sang guru bisa menatap wajah murid-muridnya, bercerita, ketawa, menyapa yang ngantuk, dan sebagainya.

Ketika pulang dari Phnom Penh, ada satu peristiwa kecil yang cukup menyentuh saya. Sopir tuk-tuk yang membawa saya dari hotel ke bandara kebetulan tidak bisa bicara Inggris, tapi dia paham ujaran saya. Penampilannya sangat sederhana, nyaris kusam. Ketika sampai di bandara, setelah saya membayar dan meminta tanda tangannya pada lembar bukti pembayaran, dia masih menunggu sejenak. Saya sibuk mengemasi koper dan tas dan memasukkan uang ke dompet. Dia masih disitu. Saya menengok ke arahnya, setengahnya heran kenapa dia tidak kunjung beranjak. Dia bilang sesuatu, agak tidak jelas, seperti mengucap “hawdah” begitu. Lalu dia tersenyum.

Tanpa harus tahu bahasanya pun, saya mengerti bahwa dia sedang mengucapkan selamat jalan. Saya memang tidak tahu ucapannya, namun dari senyuman dan rona wajahnya yang tidak dibuat-buat, saya tahu dia sedang dengan tulus mengucapkan sesuatu yang maknanya pasti bagus.

“Thank you!” saya balas ucapannya sambil tersenyum dan melambaikan tangan, lalu masuk ke bandara.

Itu peristiwa yang sangat kecil dan sepele, namun entah kenapa tindakan kecil itu membuat saya nyaman dan yakin bahwa penerbangan yang jauh ke tanah air itu akan lancar dan selamat sampai tujuan.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized