Bule dan Kita

Posted on February 26, 2012

0


Mungkin memang benar kata dosen saya hampir seperempat abad yang lalu bahwa kita ini punya mental inlander, atau bangsa terjajah. Mungkin celaka benar bahwa mental itu terlanjur melekat dalam DNA kita, sehingga penyakit yang sebenarnya dialami oleh kakek nenek kita di jaman penjajahan Belanda dulu masih terbawa sampai sekarang. Buktinya, tanpa sadar kita sering menganggap bahwa orang bule itu selalu lebih hebat, lebih tekun, dan lebih cakap daripada kita. Mungkin juga itu sebabnya kenapa lembaga-lembaga pendidikan cenderung ngoyo memajang wajah-wajah bule di websitenya atau ketika promosi di depan tamu-tamunya. Tanpa sadar, kita menempatkan diri sendiri sebagai pihak yang lebih bodoh, lebih malas, dan kita tempatkan mereka sebagai pihak yang lebih bijaksana, lebih cerdas, dan lebih segalanya.

Pengalaman saya pribadi berinteraksi dengan mereka menyangkal hal itu. Betul, mereka punya wawasan luas, tapi itu tidak berarti mereka lebih bijaksana. Saran-saran mereka bagus, tapi sering tidak memandang konteks dan budaya lokal, sehingga terkesan drastis dan radikal. Maka tidak heran kalau melihat orang-orang kita mengangguk-angguk dengan patuh ketika mereka bicara bla bla bla, tapi kemudian tidak menerapkan semua petuah yang disampaikan itu. Dalam bahasa Jawa, ini disebut “kowe tak rungokke neng ora tak gugu” (kamu saya dengarkan tapi ndak saya patuhi).

Siapa bilang kita lebih bodoh? Dalam beberapa seminar, sesi saya dihadiri beberapa bule. Mereka mendengarkan presentasi saya dengan cermat, dan tidak jarang melontarkan apresiasi terhadap karya saya. Sebaliknya, ketika mendengarkan bule presentasi, sering saya berucap dalam hati: kalau cuma begituan sih aku sudah sering dengar.

Dalam bidang saya, bahasa Inggris, siapa bilang bahasa Inggris bule paling bagus. Di bidang saya, ragam bahasa di negara-negara non Inggris dan Amerika mulai diakui. Jadi jangan heran kalau ada istilah Singaporean English, Malaysia English, Indian English, bahkan nanti mungkin juga Indonesian English.

Jaman sudah berubah. Kita juga menjadi bangsa yang makin pintar karena makan sekolahan, bahkan banyak yang sudah bergelar Master atau Doktor. Kalau saja kita bisa membebaskan diri dari belenggu psikologis mental inlander itu, plus sedikit kemauan untuk berpikir kritis dan mengasah kreativitas, saya rasa kita akan menjadi setara dengan bule-bule itu.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized