Cambodia (part 2)

Posted on February 25, 2012

0


Cambodia (part 2)

CamTESOL. Cambodia Teaching of English to Speakers of Other Languages. Ini adalah seminar internasional paling unik yang pernah saya hadiri. Biasanya, seminar sekelas ini diadakan di hotel berbintang, atau minimal perguruan tinggi dengan standar peralatan canggih. Nah, di Cambodia ini, gedung tempat penyelenggaraan seminar benar-benar mirip sd inpres di negeri kita. Ruang seminarnya adalah ruang kelas, lengkap dengan whiteboard, berlantai dengan motif catur, kotak kotak kuning dan coklat. Jendelanya berjeruji, model kuno, yang mengingatkan saya pada jendela rumah orang tua saya dulu ketika saya masih bocah. Cat temboknya terkelupas disana-sini. Pada satu ruang kelas, bangku yang saya duduki bisa bergoyang ke kiri ke kanan saking reyotnya. Habis itu, saya tidak habis pikir kenapa ada balok kayu yang dipasang melintang di bagian masuknya, sehingga kita harus angkat kaki agak tinggi supaya bisa masuk dan duduk.

Yang namanya conference hall tempat sesi pleno adalah aula dengan bangku-bangku plastik yang di negeri kita biasa dipakai kalau ada kematian atau arisan. Seribu lima ratus peserta dijejalkan kesitu sehingga jarak antar bangku sangat sempit. Yang paling menyedihkan adalah toiletnya. Ya, bisa dibayangkan kayak apa dah kondisinya, rasanya ndak perlu lagi saya uraikan panjang lebar disini.

Sesi plenary pertama. Sang pembicara tengah panas-panasnya menyajikan materinya, tau-tau pet! Listriknya mampus! Terpaksalah ribuan peserta dan satu speaker yang kecewa berat itu menunggu sampai lima belas menit sampai listrik menyala kembali.

Tengah hari, waktu makan siang tiba. Kalau biasanya di seminar makanan dihidangkan secara prasmanan dengan awak katering yang sigap melayani, di Cambodia ini makanannya disajikan dalam kotak, dan peserta yang jumlahnya ribuan itu disuruh antri melingkar-lingkar ndak karuan untuk menerima kotak makanan dan minuman yang disajikan di tempat terpisah. Ini ide siapa to ya? Lha kalau pesertanya cuma puluhan cara kotakan kayak gitu masih okelah, lha tapi ini ribuan, bok! Di confence hall suasananya sudah penuh sesak dengan orang yang sedang antri dan orang yang sedang makan. Buat saya sungguh tidak nyaman sama sekali.

Beda dengan di Indonesia yang jalan-jalannya kaya dengan warung rokok, kopi, pulsa handphone, fotokopi segala macam, di Phnom Penh ini tidak ada yang seperti itu. Tidak ada warung di tepi-tepi jalan, sehingga saya mau cari air mineral aja susah. Akibatnya saya harus menunggu saat rehat kopi. Itupun ternyata tidak menyediakan air mineral, tapi kopi, teh, dan berbagai minuman ringan kayak Coca Cola dan teman-temannya itu. Setelah susah payah mencari, akhirnya terpaksa minum susu keledai, eh, kedelai, karena hanya itu yang ramah untuk perut saya yang sedang harus dijaga supaya maagnya ndak kumat lagi.

CamTESOL yang unik. Anehnya, ini sudah penyelenggaraan yang ke 8 kali, dan tahun depan ke 9. Semuanya di tempat yang sama, ya di gedung yang sudah kuno dan reyot ini. Heran saya, kok bisa ya menarik minat peserta dengan fasilitas seperti ini? Tapi nyatanya pesertanya bisa mencapai ribuan orang setiap tahunnya. Apakah nuansa kuno dan reyot itu yang justru menarik mereka untuk datang? Mungkin juga, tapi not for me lah. Tahun depan saya mau seminar ke tempat lain saja.

Posted in: Uncategorized