Cambodia

Posted on February 24, 2012

0


Pertama mendengar negeri Cambodia yg terbayang adalah kota yang belum semaju negara-negara Asia lainnya. Seorang teman bilang bahwa lalu lintasnya lebih gila daripada di Malang. Panitia juga mewanti-wanti untuk tidak mengharapkan fasilitas secanggih di kota-kota di Indonesia. “Kalau bepergian lebih baik naik tuk tuk (sejenis becak yang ditarik oleh motor). Tidak ada bis atau subway. Taksi hanya ada dua. Kalau naik motodups (ojek) siap-siap aja sport jantung karena pengemudinya tidak mementingkan keselamatan, yang penting cepat nyampe.” Karuan saja saya siap-siap mental sejak berangkat.

Sampai di Phnom Penh, ibukotanya, ternyata yang saya alami tidak seburuk yang digambarkan. Ya memang lalu lintasnya agak semrawut, namun ternyata lebih baik daripada Malang atau Jakarta sekalipun. Di kota ini motornya tidak sebanyak di Malang. Itu membuat jalan lebih lengang dan mobil bisa dipacu lebih cepat. Naik tuk-tuk ternyata asyik juga. Kayak naik cikar yang ditarik oleh sepeda motor. Pengemudinya di depan, pakai helm, penumpangnya bisa sampai 4 orang di belakangnya. Yang lebih mengagumkan sekaligus membuat minder adalah rata-rata pengemudinya bisa berbahasa Inggris dengan lumayan baik. Di Malang, atau Surabaya sekalipun, apa iya pengemudi angkot bisa berbahasa Inggris? Rasanya endak deh.

Ibukota ini terkesan tidak sehiruk pikuk Jakarta. Jauuuh lebih lengang. Iya sih, Jakarta tuh 12 jutz manusia, disini paling banyak hanya seperempatnya, atau mungkin kurang. Yang mengagumkan, mereka punya taman yang panjang sekali di tengah kota, lengkap dengan pepohonan dan rerumputan menghijau, plus bangku-bangku. Semuanya nampak asri dan terawat rapi. Saya bisa membayangkan enaknya duduk santai disini sore-sore atau pagi-pagi. Di Malang rasanya kok tidak ada taman sepanjang itu. Di jalan Ijen memang ada jalur hijau tapi kan tidak bisa dipakai untuk tempat kongkow-kongkow. Di alun-alun Malang memang ada taman, tapi tetap aja masih kalah luas dan kalah permai dibandingkan disini. Taman Bungkul di Surabaya juga bagus, tapi tetap lebih kecil daripada yang disini.

Hmm, sampai disini saya merasa bahwa sayalah yang datang dari dunia lebih primitif ke dunia yg lebih modern, dan bukan sebaliknya. . .

Hari pertama diisi dengan aktivitas tur ke lembaga-lembaga penelitian. Yang pertama adalah ke Cambodia Documentary Center. Ternyata disini adalah pusat dokumen dan penelitian yang berhubungan dengan periode gelap semasa pendudukan oleh Khmer Rouge pada dekade 1970 an. Pada masa itu, dalam waktu hanya 2 tahun, 2 juta rakyat Cambodia tewas dibantai oleh Khmer Rouge. Banyak yang dikirim ke Tuol Slueng, atau mereka sebut S21, yaitu sebuah tempat penyiksaan dan pembunuhan massal. Nah, pusat yang saya kunjungi ini melakukan penelitian dan kegiatan pendidikan yang berhubungan dengan masa jahanam itu. Saya sampai ndak tahan utk tidak bertanya kepada pemandunya: “masa itu kan periode mengerikan yang pernah dialami bangsa Cambodia. Lalu ngapain sih dibikin riset segala, bahkan sampai dimasukkan ke kurikulum sekolah?” . Lha nama mata pelajarannya saja sudah membuat merinding: Genocide Education, atau pendidikan pembantaian massal. Tapi jawaban mereka ya masuk akal juga: supaya bangsa ini bisa belajar dari teror itu untuk tidak membiarkannya terulang lagi, dan supaya terjadi rekonsiliasi antara pihak-pihak yang dulu pernah bertikai sampai melahirkan periode gelap itu.

Indonesia sendiri kan juga pernah mengalaminya ketika terjadi pembantaian massal orang-orang pengikut PKI, bahkan juga kekerasan di tahun 1998. Argentina, Chile, Yugoslavia, Jerman juga pernah terjerumus ke masa-masa tragedi tersebut.

Kembali dari tur itu, saya berjalan-jalan di sekitar hotel dan terpesona dengan trotoarnya yang lebar. Sangat enak dan aman untuk pejalan kaki. Terbayang di pikiran saya trotoar di Jakarta yang sudah dirampas oleh lautan sepeda motor sehingga pejalan kaki harus banyak mengalah. Wah, sudah kalah banyak nih skornya antara negeri saya dengan negeri yang sebelumnya saya pikir masih primitif ini.

Hotel Cambodiana yang saya tempati berstandar bintang lima. Sayangnya, kadang- kadang listriknya pingsan, gak tau kenapa. Setelah beberapa detik, baru nyala lagi. Lha kalau ini terjadi waktu sedang di lift kan ya lumayan horror. Satu lagi kebiasaan agak aneh adalah stafnya beberapa kali mengetuk pintu kamar, dan setelah dibuka hanya bertanya: is everything okay here, Sir? Saya belum pernah menjumpai yang kayak gini di hotel-hotel yang saya pernah singgahi. Apa itu memang termasuk SOP hotel berbintang ya? Setelah tiga kali mengalaminya, sebenarnya pertanyaan itu ingin saya jawab dengan: “yeah, everything is okay here until you come knocking on my door, because YOU HAVE JUST DISTURBED MY NAP!” Ha ha ha!

Salah satu pusat atraksi pariwisata disini adalah Russian Market. Bayangan saya, saya bisa beli vodka disitu, ternyata yang ada adalah jajaran los pasar yang penuh dengan daging sapi, babi, buah-buahan, sayur mayur dan segala macam lainnya. Lha ini kan persis dengan pasar tradisional Oro-Oro Dowo atau pasar Klojen di Malang, sebelum tersaingi oleh hypermart dan mall segala macam. Seorang teman dari Amerika kayak agak menyesal mampIr kesitu, karena dia tidak tahan baunya. Yah, di negerinya sono mana ada yang kayak gitu.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized