Mantan-Mantan Saya

Posted on February 21, 2012

2


Mantan saya ada 3. Itu yang resmi, yang gelap ada 1. Nah, inilah kisah tentang mereka:

Mantan pertama adalah sewaktu saya bekerja di Universitas Waduh Kacau. Disini saya menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian. Kantor saya kecil, sekantor bersama dengan seorang Ibu yang usianya jauh di atas saya dan menjabat sebagai sekretaris saya. Tidak cukup banyak prestasi menyolok disini, kecuali bahwa saya pada tahun 2000 mendapat dana dari Dikti untuk mengadakan penelitian pengembangan tes kemampuan berbahasa Indonesia. Selain itu, yang saya ingat adalah saya membuat Panduan Penelitian dan beberapa kali pelatihan penelitian untuk para dosen. Himbauan saya untuk meneliti ditanggapi dengan suam-suam kuku oleh para dosen.

Lalu setelah hampir 4 tahun disitu, saya keluar meninggalkan kantor itu. Jadilah dia mantan saya yang pertama. Beberapa bulan kemudian saya mendengar kabar-kabar terbaru dari kantor itu. Setelah saya pergi, Panduan Penelitian itu masih dipertahankan oleh ketua yang baru. Beberapa dosen serentak bisa mendapatkan dana hibah dari Dikti. “Oh, jadi begitu rupanya”, saya membatin. “Ketika saya jadi kepala disitu, semua dosen ogah; begitu saya pergi, mereka seolah mendapatkan angin segar dan berbondong-bondong menulis proposal penelitian.” Ok, nggak apa-apa sih . . . .

Saya pindah ke Universitas Ubi. Setahun disini, saya langsung diminta menjabat menjadi direktur pusat bahasanya. Namanya keren: ULC, atau Ubi Language Center. Bersama dengan staf, saya merancang mulai dari brosur promosinya sampai tarif kursusnya, termasuk promosi sampai ke Gresik. Saya buat tag linenya: “ULC. You See, It’s Easy”. Tagline itu dimaksudkan untuk mendorong para siswanya bahwa belajar bahasa itu mudah.

Saya disini hanya 2 tahun lebih sedikit. Tapi mantan yang satu ini meninggalkan banyak kenangan, pahit maupun manis, yang kemudian menjadi bahan refleksi saya di tahun-tahun berikutnya ketika pindah ke lain hati. Ketika sudah pergi, saya diam-diam mengintip lagi apa yang dilakukan mantan saya yang satu ini. Oh, ternyata tagline saya itu masih dipertahankan; jenis kursusnya sudah bertambah banyak, tapi stafnya ya tetap aja 4 orang.

Saya meninggalkan ULC Januari 2008, dan pindah ke sebuah Universitas lain, sebut saja namanya Universitas Gunung Kawi. Disini saya langsung dicemplungkan ke kantor yang namanya QA. Biyuh, bisa dibayangkan, setelah sekian lama bergulat dengan isu-isu pembelajaran bahasa, sekarang saya diminta menjadi evaluator semua aspek non-akademis maupun akademis, merancang standar, merancang instrumen, bahkan melakukan audit. Seminggu penuh saya pelajari semua berkas dan file yang berhubungan dengan apa yang namanya quality assurance itu. Setahun dapat staf baru. Untungnya baik staf baru maupun pendahulunya adalah orang yang sama-sama cekatan dan bekerja dengan cepat, jadi saya banyak terbantu. Nah, mungkin memang lagi mujur, ketika saya menggawangi kantor itu, Universitas Gunung Kawi itu mendapat penghargaan sebagai universitas dengan sistem penjaminan mutu internal terbaik bersama 58 PTS lainnya di Indonesia. Tak ayal semua pujian (dari pimpinan universitas ini, bukan dari dosennya ) diarahkan ke saya.

Kantor ini pun akhirnya menjadi mantan setelah saya cabut dari situ untuk menjadi karyawan di fakultas yang sekarang saya tempati, masih di Universitas Gunung Kawi juga. Saya masih ingat bahwa usul terakhir yang saya ajukan kepada pimpinan universitas adalah supaya kantor mantan itu diawaki oleh lebih banyak orang, nggak cuma dua. Beberapa bulan kemudian, eh, usulan itu dikabulkan. Sekarang saya melihat ruang kantor itu diawaki oleh lima orang, termasuk staf saya dulu yang sekarang sudah menjadi pimpinannya. Wih, keren! Pasti makin tajam daya gigitnya dalam mengevaluasi dan mengaudit. Tapi saya juga sudah pindah ke lain hati, saya ndak mungkin dan memang ndak mau kembali kesitu lagi.

Nah, itu adalah cerita ketiga mantan saya. Eh, tunggu sebentar, tadi katanya ada satu yang gelap? Yang mana? Yaah,. . . namanya aja mantan gelap, ya nggak bakal lah saya ceritakan disini. . . weeks . . .!

Posted in: Uncategorized