Menolak

Posted on February 16, 2012

0


Saya tidak pernah membayangkan bahwa sebagai seorang atasan saya ternyata harus tega menolak. Sulit dipercaya bahwa dalam satu minggu terakhir saya harus mengatakan ‘tidak’ kepada beberapa orang.

Yang pertama datang mengajukan permohonan ijin untuk studi lanjut. Dia datang dengan ceria dan hangat seperti biasanya, dan sayapun menyambutnya dengan ramah. Tapi senyum saya mendadak beku melihat lembar yang disodorkan kepadanya untuk saya tandatangani. Lembar itu adalah lembar persetujuan saya sebagai atasannya untuk mengijinksn dia studi lanjut.

‘Saya tidak bisa menyetujui permintaanmu ini,’ demikian saya akhirnya berkata. “Kamu disini kan memegang visa kerja, bukan visa studi lanjut. Nanti kalau pihak imigrasi tahu, lembaga kita ini yang disalahkan.”

Demikianlah dia akhirnya berlalu, masih tersenyum tapi saya tahu dia agak kecewa.

Kali kedua dia datang lagi dengan seorang mahasiswa. “Saya minta ijin mengangkat mahasiswa saya ini sebagai staf magang.” Saya langsung melihat pada anggaran fakultas. “Yah, tidak ada pos anggaran untuk seorang mahasiswa magang,” kata saya. “jadi ya saya tidak bisa mengabulkan permintaanmu.”

Berlalulah mereka dengan kecewa.

Dua hari kemudian datang sebuah surat dari rekannya, minta ijin ke HongKong untuk ikut demonstrasi wushu. Lha kalau hal kayak gini saya ijinkan, nanti teman-temannya pasti akan ikut-ikutan juga. Lagipula apa hubungannya wushu dengan tugas yang saya beriksn ke mereka ketika pertama kali datang ke lembaga ini? Gak ada, lha wong dosen kok dikasih tugas pencak silat a la China? Jadi sekalipun pimpinan puncak membolehkan, saya tetap bilang nggak boleh.

Nah, sampai disitu saya sudah merasa gimanaaa gitu. Masa harus menolak sampai tiga kali berturut-turut? Sungguh ndak enak lho mengatakan ‘tidak boleh’ itu. Eh, dua hari kemudian datang seorang mahasiswa anak bimbing PA. Dia minta diperbolehkan ikut kuliah X, padahal dia bekum lulus mata kuliah Y yang merupakan prasyarat mata kuliah X. Dia beralasan bahwa dulu dia tidak lulus Y karena sering membolos. “Tapi sebenarnya saya bisa kok, Pak,” kilahnya, “maka tolong saya diijinkan ikut mata kuliah X.”

“Lho lha kalau kamu hanya merasa bisa padahal jelas nilaimu nol karena terlalu sering membolos, masa saya mesti mengijinkan kamu? Nanti teman-teman lain yang tahu pasti akan berbondong-bondong ke saya minta diijinkan ikut kuliah yang sebenarnya mereka belum lulus prasyaratnya. Kan jadi ndak karuan nanti sistem kurikulum yang sudah kami bangun?”

Air matanya mulai membayang dan saya mulai sulit menahan tega. Tapi saya harus tega. Kalau tidak, ini nanti jadi preseden buruk buat teman-temannya yang lain.

“Berarti saya bisa-bisa baru lulus tahun depan dong, Pak?” katanya mengiba.

“Ya, gimana ya. Itu sudah konsekuensi yang seharusnya kamu pikirkan ketika sering membolos dulu.”

Jadi demikianlah, saya tetap mengatakan “tidak”. Dia akhirnya paham dan berlalu dari kantor saya.

Hmm, sungguh tidak mudah menolak permohonan staf atau mahasiswa. Tapi saya memang harus tega, kalau tidak maka percuma semua sistem dan aturan yang sudah susah payah kami susun.

Posted in: Uncategorized