Kawin Kontrak

Posted on February 10, 2012

0


Saya terheran-heran membaca kata itu: kawin kontrak. Rasanya aneh sekali. Kawin kok dikontrak? Kontrak rumah, iya, biasa, kontrak kamar, iya, lumrah, kontrak kerja, ya, umum dimana-mana, tapi kontrak untuk kawin??

Menurut yang saya baca, kawin kontrak adalah ikatan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita untuk jangka waktu tertentu. Setelah jangka waktu itu berakhir, maka ikatan perkawinanpun lepas. Mereka bercerai. Yang lebih membuat saya terheran-heran adalah alasannya: untuk pemenuhan kebutuhan biologis sang pria (yang umumnya pekerja dari luar negeri), atau untuk memperlancar urusan administrasi bisnis di negara sang wanita. Karena warga negara asing tidak boleh mendirikan perusahaan atas namanya sendiri, maka mereka meminjam nama “istri kontraknya” untuk memenuhi persyaratan ijin usaha.

Saya pernah punya tetangga seperti ini: prianya dari Korea, istrinya dari Malang. Mereka kawin kontrak selama beberapa tahun sampai masa kerja sang pria habis. Lalu sang pria kembali ke Korea, dan meninggalkan wanita itu beserta anaknya di Indonesia.

Yang saya herankan: apa bisa perasaan cinta dan sayang dibatasi oleh masa kontrak sekian tahun sekian bulan? Kalau kedua insan itu ternyata bukan hanya saling tertarik secara fisik namun sayang dan akhirnya cinta beneran, bagaimana rasanya ketika mereka harus berpisah karena kontraknya sudah habis? Masa iya si pria bisa bilang: “Waaah. . . . besok aku sudah ndak bisa mencintaimu lagi karena kontrak kita sudah berakhir besok”.

Ya, kalau pria mungkin bisa begitu ya, (kan sudah saya bilang pria itu makhluk paling tidak menarik di muka bumi); tapi apa bisa seorang wanita yang sudah mencintainya bisa mengatakan hal yang sama dengan mudahnya?

Wanita, kalau sudah mengatakan mencintai seseorang, benar-benar total lho dalam cintanya. Sulit untuk meninggalkan sang pria kekasihnya kecuali kalau ada alasan yang mengancam jiwanya atau memang sudah benar-benar menderita dalam hubungan itu. Bahkan jika sang pria ternyata berpaling darinya, rasa cinta itu masih membekas lama dalam hatinya.

Kalau saya toh diijinkan untuk kawin kontrak, saya ndak akan mau. Saya akan bilang “lu kira gampang mengatakan “ok, kontrak berakhir, aku tidak mencintaimu lagi” kepada seorang wanita yang benar-benar aku sayangi?”.

Tapi untungnya dunia belum cukup gemblung untuk menawari saya hal nyeleneh seperti itu. . . . .

Posted in: Uncategorized