Wanita Gemuk, Kurus, dan Sintal

Posted on February 9, 2012

0


“Pak,apakah saya ini gemuk??”

Audzubillah mindalid! Berapa kali ya saya harus dihadapkan pada pertanyaan serupa? Kenapa ya wanita sangat kawatir dan bahkan mendekati parno tentang berat badannya? Seribu kali saya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban: “Ah, ndak kok, kamu ndak gemuk!”, seribu kali pula pertanyaan yang sama akan dilontarkan lagi pada kali berikutnya.

Saya hapal sekali kebiasaan istri saya setiap subuh . Begitu bangun dan setelah ke kamar mandi, maka berikutnya akan terdengar suara timbangan diinjak. Sejenak kemudian, dia akan masuk ke kamar dan mengatakan: “Hore, beratku sudah normal lagi!”. Kali lain setelah menginjak timbangan itu, dia mengomel: “Kok beratku belum turun juga ya? Ini pasti karena steak tadi malam.” Saking seringnya mendengar ungkapan itu secara rutin, suatu pagi secara otomatis setengah mengigau saya bahkan menjawab sebelum dia berbicara: “Ya, ntar paling kembali normal lagi.” Ha ha haaa! Kacau dah . . .

Saya pernah melihat survey di kalangan para pria entah kapan. Yang jelas survey itu mendapati bahwa ternyata cukup banyak pria yang merasa suka melihat pasangannya sedikit berisi. Berisi disini jelas tidak kurus, tapi tidak pula terkesan gemuk. Mungkin istilah yang paling tepat adalah “sintal”, atau “montok”. Seorang yang gemuk terkesan mempunyai kelebihan lemak, yang jika sudah parah kelihatan seperti menggelambir. Tapi seorang yang sintal tidak sampai menggelambir seperti itu, namun tetap kelihatan berisi. Kesannya padat, sehat dan .. . . hmmm…. sexy tentu saja. Seorang wanita yang gemuk menyiratkan bahwa dia sedang dilanda masalah sehingga kerjanya makan melulu, atau dia memang suka makan sampai pada taraf memalukan, atau tidak peduli dengan penampilannya. Seorang wanita yang kurus juga sama buruknya: terkesan terobsesi pada berat badannya sehingga rela kelihatan seperti tengkorak berjalan. Sebaliknya, seorang wanita yang sintal menyiratkan kesan percaya diri, riang, dan menikmati hidupnya.

“Pak, berat saya sekarang kok jadi 64.5 ya? Saya ingin jadi 60. Menurut Bapak gimana?”

“Hmm, gimana kalau kamu ambil rata-ratanya saja? 64.5 ditambah 60, terus dibagi dua, hasilnya ya itu berat idealmu.”

“Jahaaaaattt….!”

Kali lain dia bekata lagi: “Pak, saya ga mau maem hari ini, biar ndak gemuk.”

“Iya, deh, ga usah maem seminggu ya. Pokoknya harus menyusut sampai 10 kg.”

“Ha ha haaa! Mati saya, Pak! . . . ”

Beberapa minggu yang lalu saya diundang makan ke suatu acara perpisahan seorang figur yang terkenal di lingkungan saya. Ternyata MC nya adalah staf saya sendiri yang selama ini saya tugaskan mengajar Mandarin di Blitar. Dia memang punya bakat ngemsi. Karena dia memakai baju backless dan rok sedikit mini, saya jadi tahu potongan tubuhnya. Ternyata wanita yang satu ini tergolong kurus. Karena sudah capek dan sebenarnya tidak menikmati acara malam itu, saya mulai kumat isengnya. Saya ambil BB saya dan saya tulis pesan buat dia : “Kamu kok kurus sekarang??”. Gilanya, di tengah kesibukannya ngemsi, dia masih sempat membaca pesan BBM itu dan bahkan membalas: “Biarin. . . . weeekss . . . siapa suruh aku ngajar di Blitar terus?”.

Posted in: Uncategorized