Onani

Posted on February 7, 2012

0


Tidak usah saya jelaskan arti judul itu. Semua sudah tahu. Saya hanya ingin menekankan bahwa suatu bangsa atau lembagapun bisa melakukan onani.

Masih ingat film “Rambo” di akhir tahun 1970 an atau awal 1980 an? Di film itu digambarkan seorang superhero Amerika yang sedemikian hebatnya sampai satu peleton pasukan Vietcong bisa dia sikat habis. Tentara-tentara Vietkong memberondongnya dengan mitralyur, melemparkan granat, menembaknya dengan bazooka, eh, luput semua! Eh, begitu dia menembak, rat-tat-tat-tat, langsung puluhan pasukan musuh jatuh bertumbangan kena pelurunya! Hebat betul! Singkat cerita, sang Rambo menang berjaya melawan pasukan Vietcong. Satu orang Amerika menumpas puluhan bahkan ratusan orang Vietcong.

Film itu laris. Orang Amerika senang, puas, bangga karena jagoannya berhasil merobohkan pasukan-pasukan Vietcong yang komunis itu. Tapi sebenarnya mereka sedang memuas-muaskan dirinya sendiri lewat menonton film itu. Kenapa? Karena kenyataan sebenarnya yang terjadi di dunia nyata adalah sebaliknya: tentara Amerika, yang tinggi tegap bersenjatakan senapan mesin, helikopter, tank, granat, meriam,pesawat dan sebagainya itu kalah total ketika melawan pasukan Vietnam komunis dan tentara Khmer Merah di Cambodia. Di Newsweek beberapa tahun sebelum film itu, ada gambar yang sangat terkenal: sebuah helikopter Amerika di puncak gedung kedubes AS di Saigon sedang menampung banyak staf Amerika dan orang-orang Cambodia lari lintang pukang karena didesak oleh pasukan-pasukan Khmer Merah. Foto itu menjadi sangat terkenal, dan menjadi simbol takluknya sebuah negara superpower oleh kecerdikan taktik gerilya dari pasukan-pasukan komunis. Amerika terjengkang!

Maka bangsa Amerika pun kehilangan rasa percaya diri, mirip seperti seorang pria yang sudah welek jahat melarat bau pula sehingga tidak ada seorang wanita pun yang mau bercumbu dengannya. Nah, daripada harus menahan nafsu terpendam, maka dia lakukanlah pemuasan diri sendiri yang disebut onani itu. Rakyat Amerika pada saat itu juga seperti itu: sudah kalah perang, harga dirinya hancur, maka dibuatnyalah film yang menggambarkan kemenangannya atas pasukan-pasukan komunis. Sambil melihat film itu, penonton Amerika mereguk nikmat, merasakan enaknya membalas dendam, dan merasakan nikmatnya menjadi pemenang. Mereka puas, padahal di dunia nyata mereka keok!

Kalau Anda perhatikan, saya termasuk orang yang diam saja ketika seorang motivator atau pembicara mengundang hadirin untuk berseru: “Apa kabar UMC???!!”, dan dijawab “Luar biasaaaaa!!”. Luar biasa my ass, pikir saya. Apanya yang luar biasa? Sebagian besar dosennya ndak becus berbahasa Inggris (hanya segelintir yang lolos tes TOEIC beberapa hari yang lalu) , perkuliahan bahasa Inggris minim peserta, tata kelola masih acakadut, ada fakultas yang dicuekin, softskill mandeg, mentoring ndak ketahuan juntrungannya, prodi saya masih bergulat dengan minimnya penelitian. Lantas apanya yang luar biasaaaa?? Maka jangan heran kalau saya diam saja ketika diminta berteriak “Luar biasa” begitu.

Menikmat-nikmatkan diri dengan menganggap bahwa pencapaian kita adalah sudah “luar biasa” itu sama saja dengan onani kan? Saya tidak mau onani. Kalau Fakultas saya masih kurang maju ya saya akan bilang kurang, wong nyatanya memang demikian. Kalau lembaga ini masih kurang disana-sini ya ayo kita perbaiki bersama-sama. Jadi kalau lain kali diminta teriak ya saya sarankan teriakannya diganti setengah doa seperti ini: “Ya Gustiii. . . . bantulah kami iniiii!”

Sekian.

Posted in: Uncategorized