Posting Saya Dikritik, Hu hu hu . . . . !

Posted on February 5, 2012

0


Hari ini ada seseorang yang dengan sangat terus terang memberitahu saya bahwa dia tidak suka posting saya sebelum ini yang berjudul “Tentang Nilai dan Gelar Sarjana”. Saya surprised (kata ini belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia, soalnya artinya unik: “terkejut tapi senang”), karena baru pertama kali ini dia dengan sangat spontan memberikan pendapatnya tentang posting saya. Seingat saya, belum pernah ada pembaca yang melakukannya.

Saya tidak merasa gusar menerima kritikannya. Sebagaimana saya pernah katakan, kritik adalah pupuk: baunya ndak enak, penampilannya mengerikan, namun kalau dipakai dengan benar maka dampaknya akan menguntungkan. Maka saya terima kritiknya dan saya buat introspeksi. Saya baca lagi posting saya yang dia tidak suka itu, mencoba menemukan kalimat-kalimat yang nadanya menggebyah uyah atau menyamaratakan sesuatu. Ternyata memang ada bagian-bagian yang potensial membuat orang dari kelompok itu merasa tersinggung. Ada juga bagian-bagian lain yang saya tidak menyesal menulisnya karena memang saya yakin sekali bahwa itu benar. Kalau ada yang tersinggung, ya silakan mereka introspeksi, bukan saya.

Lalu pembaca setia ini mengatakan bahwa dia akan membuat blog juga. Saya hanya memandang textingnya dan dalam hati mengatakan: “Ya, itu bagus, tapi . . . . halah, . . . kamu aja mau bikin blog. Rasanya kok ndak,” lalu saya taruh BB dan menikmati sisa malam. Lha ya bukan salah saya membatin begitu karena saya tahu sekali sifat orang yang saya kenal betul ini. Dengan pribadi setertutup dia rasanya tidak mungkin dia mencurahkan buah pikir dan perasaannya ke media yang laris ini.

Tapi saya berterima kasih padanya karena dia sudah mau mengungkapkan pendapatnya secara jujur tentang posting saya. Nah, lihat aja pagi nanti kalau dia ndak suka postingan ini, ntar kan dia komentar lagi via sms. Ha ha haaa! Mancing nih ceritanya?

Seminggu yang lalu saya didera sakit maag, sampai ndak bisa tidur semalaman. Ternyata itu adalah buah dari gaya hidup saya yang agak ngawur. Saya ingat beberapa hari sebelumnya saya minum anggur tiga gelas, besoknya minum kopi tiga gelas, sorenya minum es lemon soda, terus malamnya masih mengganyang camilan pedas setelah menghabiskan sepiring soto dengan sambal pedas. Perut saya berontak dan membuat saya kesakitan sepanjang malam, sampai paginya acara makan bubur ayam terpaksa diganti dengan ke dokter jaga di apotik Wijaya Kusuma. Dokter menjatuhkan hukuman: dilarang ngopi, dilarang nge teh, dilarang nyambal, dilarang minum yang asam, jeruk, kripik pedas, semua gak boleh!

Untunglah sekarang sudah sembuh. Tapi saya tetap insom. Kenapa? Saya kepikiran seorang dosen dari negeri tirai bambu yang hari Senin harus saya ajak bicara, bahkan saya tegur. Saya bukan tipe orang yang mudah menegur, jadi begitu diminta menegur saya agak bingung bagaimana caranya supaya dia tidak terlalu patah semangat. Mungkin saya akan menerapkan strategi roti lapis atau sandwich: ngomong baik dulu, terus sampaikan yang buruk, terus baik lagi.

Posted in: Uncategorized