Tentang Nilai dan Gelar Sarjana

Posted on February 4, 2012

0


Tanpa kita sadari, betapa banyak kita menggantungkan perasaan, mengukur prestasi, memberikan judgment berdasarkan apa yang sehari-hari kita sebut nilai. Dalam dunia pendidikan, nilai itu kalau diakumulasi menjadi IP, lalu IPS (IP semester), lalu IPK (IP kumulatif).

Kita kuliah untuk apa? Sebagian besar menjawab: “supaya mendapat nilai bagus,” atau “supaya IPK nya bagus”. Kalau IPK sudah bagus, lalu terbukalah harapan untuk menjadi lulusan dengan predikat Cum Laude. Kalau sudah menyandang predikat Cum Laude, masa depan diyakini lebih cerah karena status itu membuat bagian HRD perusahaan terkesan sehingga tawaran wawancara kerja pun berdatangan.

Maka ya tidak salah kalau banyak orang kemudian melakukan upaya keras untuk mendapat nilai bagus dari dosen-dosennya. Kalau upaya ini tetap berada di jalur yang benar, tidak masalah. Yang mengkhawatirkan adalah kalau kemudian orang menghalakan segala cara untuk bisa memperoleh nilai bagus. Tindakan menyontek, menjiplak karya orang lain, sampai pada memberi barang-barang atau kue-kue kepada si dosen bisa merupakan cara salah untuk memperoleh nilai. Di prodi saya, ada aturan tidak tertulis bahwa mahasiswa tidak boleh memberikan apapun kepada dosen selama dia dibawah bimbingan atau asuhan sang dosen. Aturan ini kemudian saya bakukan di Kode Etik Fakultas Bahasa dan Seni. Serem ya? Tapi itu penting, karena saya melihat di prodi lain ada kecenderungan mahasiswa memberikan sesuatu kepada dosen-dosennya. Mungkin juga motifnya tidak semata-mata mempengaruhi penilaian si dosen, tapi tindakan itu, pada faktanya, memang bisa dengan sangat mudah mempengaruhi penilaian dosen. Mahasiswa yang hasil kerjanya sebenarnya hanya layak AB bisa menjadi A karena dia sering memberi dosen benda-benda, mulai suvenir dari luar negeri sampai kue-kue, bahkan baju.

Terakhir kali saya menerima pemberian kecil seperti itu adalah ketika ujian skripsi beberapa minggu yang lalu. Celakanya saya ternyata memang “manusia tak tahu balas budi”. Sudah dikasih snack, tetap saja saya dengan sadis mencoret moret naskah skripsi yang saya pandang masih jauh dari bagus itu. Jadi sambil makan snack dan meminum minumannya, tangan saya sibuk mencoreti lembar demi lembar sambil mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis kepada sang mahasiswa. Sadis kan? Lho tapi maksud saya disini bukan pada sadisnya, tapi pada pendirian bahwa saya akan tetap obyektif menilai, tidak dipengaruhi oleh pemberian. Maka memang seharusnya pemberian seperti itu tidak perlu dilakukan.

Kembali kepada nilai. Beberapa orang mengatakan dengan sinis: “lu buat apa sih dapat nilai bagus-bagus? Ntar kalau kerja buka usaha sendiri kan ya ndak ada gunanya?”. Menurut saya, bukan nilai itu semata yang penting, tapi pengalaman dalam meraih nilai itu: belajar, menambah wawasan, mendengarkan kuliah, kadang jatuh bangun karena tidak paham beberapa bagian, dan sebagainya hal-hal yang menempa pribadi menjadi lebih kokoh dan lebih bijaksana.

Lagipula, siapa bisa meramalkan dengan pasti bahwa dia tidak akan melamar kerja? Bagaimana kalau suatu ketika karena perkembangan usahanya, dia perlu menambah ilmu lanjut? Atau bagaimana kalau ternyata situasi memaksanya untuk bekerja di perusahaan? Bukankah nilai yang katanya “ndak ada gunanya” itu akhirnya menjadi berguna?

Di Fakultas saya, setiap ada pelamar baru saya selalu meminta ada sesi demonstrasi mengajar. Jadi bairpun nilainya selangit, kalau cara mengajarnya sangat tidak menarik atau kacau balau, ya tetap saja saya ragu-ragu menerimanya.

Nah, masih tentang pendapat sebagian orang tentang nilai, kuliah, dan gelar sarjana. Saya sedih kalau mendengar pendapat seperti ini: “saya kan kuliah hanya untuk meraih gelar sarjana.” Hmm, . . . . kalau hanya untuk meraih gelar itu, siapkan saja duit sekian puluh juta, lalu cari di Google jasa pencetakan ijazah palsu yang banyak di ibu kota. Tinggal transfer ke rekening mereka, dalam satu dua minggu dapat dah ijazahnya, kalau mau lengkap dengan transkrip, bahkan naskah skripsinya sekalian. Gampang kan? Tapi apa itu nilai yang mau dihayati?

Kuliah bukan semata untuk mendapat nilai dan mendapat gelar sarjana. Kuliah adalah ajang untuk menempa diri, membuka wawasan, menjadikan diri lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih mengandalkan nalar, logika, dan menyeimbangkannya dengan karakter yang positif. Nilai hanyalah cerminan sekilas dari kualitas semua pencapaian itu.

Posted in: Uncategorized