Pakaian dan Saya : Mulai Baju sampai Toga

Posted on February 2, 2012

0


Sebagai seorang pria tentunya agak gimanaaaa gitu kalau nulis tentang pakaian. Kalau saya seorang pria pengamat mode ya gak papa lah, tapi ini . . . Yaa, tapi justru karena anehnya itulah saya nekad menulis tentang pakaian.

Pakaian menunjukkan kepribadian. Pada taraf tertentu, pakaian juga menunjukkan cita rasa seseorang, bahkan profesinya. Kalau ada dua orang wanita yang satunya berpakaian kemeja biasa, celana jins dan sepatu kets, dan satunya lagi berpakaian rok dengan rok mini dan blazer serta sepatu bertumit tinggi, tentu kita bisa dengan mudah menerka bahwa yang pertama adalah mandor bangunan, atau setidaknya pekerja laboratorium, dan satunya lagi pasti wanita eksekutif atau pramuniaga. Betul, kan?

Saya sering memperkirakan siapa yang akan ditemui seorang wanita dari pakaiannya. Kalau sehari-hari dia berpakaian biasa-biasa saja, lalu suatu ketika dia muncul dengan pakaian yang agak mewah, bahkan sedikit ketat atau sedikit mini, plus sepatu bak peragawati, saya pasti langsung bisa menebak dia akan bertemu siapa hari itu. Bisa saja dia akan menghadiri satu gathering yang penuh dengan figur-figur populer, atau kemungkinan besar dia akan bertemu dengan seorang klien atau rekan pria yang dianggapnya harus dibuat terkesan oleh penampilannya. Tanpa sadar, dia sedang berusaha menampilkan citra sebagai wanita yang menarik. Yah, normal lah, who does not feel the same way?

Ada seorang mahasiswi yang setiap kali bertemu saya berpakaian seperti itu, plus parfum yang hmmm…wanginya bak parfum dari Nirwana. Saya heran, anak ini habis dari mana sih? Atau dia mau kemana? Apa iya dia selalu pergi ke pesta setelah bertemu saya untuk sekedar konsultasi? Masa iya ada pesta setelah jam 10 pagi?

Mungkin itu sudah gaya dia ya.

Nah, sekarang tentang pakaian pria. Untunglah dulu Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi teman Adam, kalau ndak pasti ndak pernah ada industri mode seperti yang sekarang kita kenal. Kalau dunia ini isinya hanya pria melulu, paling hanya dibutuhkan beberapa gelintir pabrik baju dan satu atau dua orang fashion designer. Kenapa? Ya karena model pakaian pria itu ya gitu-gitu aja dari dulu. Kemeja pria ya dari dulu modelnya tetap saja. Mana ada kemeja pria yang kemudian dibuat backless alias gegernya bolong, atau berpundak terbuka, atau celana panjang model mini yang menampilkan kaki kekar dan berbulu? Jangankan kita yang ngeliat, monyetpun bakal kabur ngeliatnya saking anehnya, bwa ha ha haaaaa!

Saya tidak tahu persisnya kapan saya menentukan selera pakaian saya. Rasanya saya tanpa sadar meniru gaya ayah saya berpakaian. Gayanya sangat konvensional: kemeja biru polos, atau dengan garis-garis vertikal, atau berwarna putih, lalu celana panjang warna gelap, sudah. Itu pakaian kalau sedang ke luar rumah; kalau sedang santai di dalam rumah, pakaiannya bisa lebih nggladrah lagi sampai saya pernah dikira tukang cat karena memakai kaos oblong yang warnanya sudah ndak karuan. Nah, sejak menikah, istri saya rupanya tidak terlalu sreg melihat gaya suaminya yang sangat “bapak-bapak” seperti itu kalau sedang kuliah. Maka dia pun membelikan saya baju yang bermotif, berwarna cerah seperti merah, ungu gelap, coklat dan masih banyak lagi. Nah, suatu ketika ibu saya melihat baju saya yang bergaya lebih meriah seperti itu. Apa beliau bilang? “Bajumu kayak gombal!”. Jlegerrr! Itu masih ditambah dengan pertanyaan menyelidik: “Siapa yang milihkan itu?”.

Demikianlah, dua wanita terdekat, seleranya pun ternyata beda jauh tentang pria kesayangannya.

Nah, ada beberapa mahasiswa (well, tepatnya: mahasiswI) yang ikut-ikutan berkomentar soal pakaian yang saya kenakan. Setidaknya ada dua yang mengatakan saya lebih pantas memakai baju berwarna gelap atau abu-abu. Ketika saya memakai baju seperti itu, eh, ada lagi temannya yang komentar: “Kok bajunya jadi warna gelap? Bapak lebih pantas pakai baju warna terang dan berlengan panjang pula.”

Satu jenis pakaian yang sebenarnya dan sejujurnya saya tidak merasa nyaman memakai adalah seperti foto di bawah ini: toga! Entah kenapa, saya merasa rasa percaya diri langsung drop sekian puluh persen begitu mengenakan toga. Nah, kontrasnya, atau ironisnya, banyak yang menganggap bahwa saya pantas sekali memakai baju kebesaran akademik itu. Heran dah saya. Pada wisuda tahun lalu, seorang murid yang kebetulan menjadi salah satu petugas di acara tersebut sampai rela turun dari tangga tempatnya bertugas hanya untuk duduk di samping saya dan meminta temannya mengambil foto kami. Wew!

Posted in: Uncategorized