Promosi Prodi Mandarin di SMA Nurul Jadid

Posted on January 28, 2012

0


Tanggal 26 Januari yang lalu saya pergi ke SMA Nurul Jadid di Paiton bersama kaprodi Mandarin dan dua dosennya beserta rekan-rekan lain dari Direktorat Marcom. Tujuan kami adalah mempromosikan Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin yang akan kami mulai bulan Agustus tahun 2012 ini. Kami mendapat kabar dari para pendiri bahwa pesantren itu mempunyai kelas jurusan bahasa yang berminat mempelajari bahasa Mandarin di perguruan tinggi.

Seumur-umur baru kali ini saya masuk pesantren. Sambutan dari bapak Kepala Sekolah dan pengurus yayasannya sangat ramah. Tapi yang lebih mencengangkan adalah kemampuan para murid yang siang itu menyambut kami di aulanya. Memakai kopiah hitam dengan baju seragam, wajah khas Indonesia (bukan bule atau indo atau etnis lain), mereka bisa berbahasa Mandarin dengan fasihnya. Saya benar-benar ternganga. Luar biasa! Anak-anak ini kebanyakan datang dari keluarga sederhana, orang tuanya petani atau buruh, sebagian TKI atau TKW di tanah Arab atau negara lain. Mereka bukan anak-anak yang saya lihat setiap hari di kampus: dari keluarga menengah ke atas, bermobil, gadget canggih, tas kulit dan baju mahal, suka hang out di “Flame” atau fitness di Atlas, bukan lho. Ini anak-anak sederhana, tapi mereka bisa menempa dirinya untuk menguasai bahasa yang sulit itu. Saya bayangkan kalau mereka punya FB, di profilnya akan tertulis begini: “Knows Indonesian, Javanese, Madurese, English, Arabic, Mandarin.”. Habis itu kalau tes HSK mereka pasti lulus minimal level 3! Kereen!

Nah, ini gambar lao shi Ma Chung, namanya Wen Lihuan, dikerumuni murid-murid SMA Nurul Jadid yang merasa terpikat oleh seni gunting kertas a la China. Nggak nyangka kan, anak-anak dengan penampilan seperti itu bisa berbahasa Mandarin dengan fasihnya?

Apa rahasianya? Ternyata mereka mendapatkan pelajaran bahasa Mandarin 4 jam sehari, plus kewajiban berbahasa Mandarin begitu mereka pulang sekolah dan kembali ke asramanya. Gurunya cuma satu, namanya Lin Bo lao shi, seorang pria energik dari China yang baru berusia 28 tahunan. Bayangkan! Cuma satu guru untuk lebih dari 250 orang murid di kelas bahasa. Biyuh biyuh biyuh!

Sambutan mereka sangat meriah dan mereka bisa langsung akrab dengan para lao shi. Ya, mungkin karena lao shinya juga sama-sama antusias ya? Si Wen Lihuan itu nyaris muntah-muntah karena mabuk di mobil dalam perjalanan ke lokasi, tapi toh dia ternyata tahan sekuatnya dan masih bisa tampil prima di acara tersebut. Tapi apakah dengan serta merta mereka akan mendaftar ke prodi Mandarin di lembaga saya? Hmm.. belum tentu. Setidaknya ada dua hal besar yang saya lihat harus segera ditangani: pertama adalah masalah biaya. Dengan latar belakang keluarga petani dan pekerja lepas, sanggupkkah mereka menyediakan dana cukup untuk kuliah di kampus seperti UMC? Kedua, faktor keterkejutan budaya. Tradisi pesantren yang kental dengan warna pendidikan Islam tentunya sangat melekat pada diri mereka. Jangan sampai mereka kaget melihat budaya di kampus metroplis itu, apalagi kalau sampai kuliah di Jinan untuk program S1 mereka. Terbukti salah satu pertanyaan dari mereka adalah ini: “bagaimana makanan di Jinan? Apakah halal?” Kalau serius mau menggarap lahan ini, lembaga saya harus mengakomodasi pertanyaan-pertanyaan dan hal-hal non-akademis ini.

Aapapun itu, kunjungan ke SMA NUrul Jadid itu sangat mengesankan bagi saya.

Posted in: Uncategorized