Dialog dengan Adik Saya

Posted on January 28, 2012

0


Dari segi pendidikan, sebagai anak sulung saya mencapai puncak tertinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan kedua adik saya. Namun, dari segi kedekatan dengan Tuhan dan memelihara spiritualitas, saya banyak belajar dari kedua adik saya.

Salah satunya menginap di rumah saya malam kemarin. Setelah dinner, kami berbicara banyak hal. Salah satunya adalah tentang hidup ini. Dia mengatakan: “dunia ini memang dikuasai oleh Beelzebub (iblis); jadi ya memang sudah tidak heran kalau semuanya cenderung menuju ke arah penghancuran.”

“Jadi percuma dong berdoa dan berharap bahwa semuanya akan menjadi baik,” sanggah saya.

“Ya, justru itu. Kita harus siap-siap supaya kelak setelah kita mati, jalan kita menuju ke kekekalan akan lancar. Yang penting itu bukan urusan di sini, di dunia ini, tapi dunia setelah itu,” katanya.

Lalu kami membicarakan tentang orang-orang yang sangat rajin berdoa, baca Kitab Suci setiap malam, ke gereja hampir setiap hari, namun ternyata masih menyimpan dendam dan begitu terprovokasi sedikit saja meledaklah semua amarahnya.

“Bagaimana itu bisa terjadi?” saya bertanya keheranan. “Berarti doa-doanya tidak sampai benar-benar menyentuh dasar jiwa mereka ya?”

“Kalau Roh Kudus sudah benar-benar bermukim dalam dirinya dan berkarya disitu, seharusnya yang penting adalah semangat mengalah untuk perdamaian, dan bukannya mengalah terhadap ego,” katanya. “Karena ego itu menyediakan tempat duduk VIP untuk setan; makanya kalau egonya dibela terus, yang dominan pasti nafsu-nafsu setannya: marah, egois, cemburu, dendam, dan sebagainya.”

Saya jadi ingat salah satu status FB saya ketika masih jaman saya gendheng FB an dulu: “Hidup adalah perjuangan, termasuk perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri.”

Adik saya ini baru beberapa bulan pindah dari Jakarta, dari sebuah perusahaan ternama, ke kampung halamannya, supaya dia bisa mendirikan usaha sendiri, dan lebih banyak berkarya untuk sesama yang berkekurangan. Dia mempunyai seorang teman dekat yang disebutnya penasihat spiritual, yang ilmunya jauh lebih tinggi dari dia sendiri. Saya kadang-kadang juga berkontak dengan sang penasihat spiritual ini, terutama ketika sedang tunggang-langgang karena dihadapkan pada masalah-masalah pribadi. Dia senantiasa berbekal Injil untuk membantu saya. Saya masih menyimpan satu file dari dia yang isinya berisi setiap masalah saya dan ayat-ayat dari Injil yang dia bilang merupakan jalan keluar untuk masalah-masalah saya tersebut.

Posted in: Uncategorized