Gan Bei! Merayakan Imlek 2012

Posted on January 23, 2012

0


“Happy Chinese New Year!” kata dosen dari Denmark itu ketika bertemu saya.

“Oh, but I’m not a Chinese,” kata saya.

“Yes, but we are going to a Chinese new year party!” sergahnya tak mau kalah.

Bis kampus penuh memuat kami menuju ke Surabaya, ke rumah penasihat UMC yang dedikasinya sudah sangat tinggi dan dianggap sebagai bapak kehormatan. Udara cerah, lalu lintas relatif lancar. Duduk di sebelah saya adalah koordinator kuliah bahasa Mandarin yang bertanya kenapa istri saya tidak ikut. Itu pertanyaan yang saya sendiri tidak tahu jawabannnya. Jadi saya hanya mengatakan: “Oh, dia lebih suka tinggal di rumah, menemani anak-anak.” Sesungguhnya, dia tidak ikut karena setahu saya undangannya hanya untuk saya sebagai pimpinan fakultas.

Rumah besar di jalan Dharmahusada Indah itu sudah meriah dengan suasana perayaan Imlek. Tahun ini nuansa Tionghoa terasa lebih kental lagi karena hadirnya dosen-dosen dari Jinan dan Hunan yang sehari-hari mengajar di kampus di bawah Fakultas Bahasa dan Seni.

Ada satu orang dosen dari AS, satu lagi dari Denmark, satu lagi dari Polandia. Jadi disitulah ajang pemahaman lintas budaya terjadi. Dalam hati saya bilang, “kayaknya bulan depan aku harus belajar privat bahasa Mandarin, kalau tidak ya seperti ini: hanya terbengong-bengong memandangi orang sekitar ngomong bahasa Mandarin.” Kalau mendengar dosen-dosen itu berbicara satu sama lain dalam bahasa mereka, saya sudah membayangkan sulitnya menguasai bahasa yang tinggi nadanya menentukan makna itu. Belum lagi tulisannya. Haduuh . . .! Tapi setidaknya saya harus tahu bahasa itu secara pasif, karena akan nggak lucu kalau mereka ngerasani dekannya dan sang dekan tidak tahu apa-apa.

Saya tanya kepada kaprodi Mandarin beberapa hal tentang Imlek. Di negaranya, Imlek adalah perayaan menyambut datangnya musim semi dan masa panen. Semua orang harus makan bersama keluarga intinya; yang sudah menikah pun juga harus kembali ke keluarga papa mamanya untuk makan bersama, setelah itu bergabung lagi dengan suami atau istrinya. Makanan khas nya adalah ikan dan jeruk, karena kedua benda ini, jika diucapkan dalam bahasa Mandarin, artinya kesehatan dan kesejahteraan. Begitu ya, Wang Gong Ping? Say “yes” if you read this, ha ha ha!

Setelah minum anggur—tepatnya, meneguk anggur merah setengah gelas—bersama dengan para pendiri UMC, saya duduk. Kenapa? Ya karena agak pusing, ha ha haaa! Suasananya sedemikian sehingga kita tidak boleh meminum anggur itu sedikit demi sedikit ibarat pangeran, namun harus meneguknya dalam beberapa tegukan sekaligus sehingga habis tak bersisa!

Tengah enak-enak duduk, sang koordinator Mandarin yang malam itu berbaju cheongsam merah menyala mendekati saya lagi. “Mau minum sama saya?” katanya, sambil membawa segelas anggur. Saya menjawab agak tidak jelas karena saya tidak tahu apa maksudnya. Dia melesat ke meja makan, mengambil segelas kosong dan menuangkan anggur sampai tiga perempat gelas, lalu membawakannya ke saya. “Let’s have a toast!” katanya. Oh, itu maksudnya. “JIng jiu!” kata sang kaprodi di sebelah saya. “Gan bei!” seru yang lain. “Apaaa?”. “Oh, itu artinya, kamu harus minum, dan minumnya harus sampai habis,” katanya.

Dua gelas bersentuhan. “This is for our health and happiness,”. Lalu gleek, gleek, dia meneguk anggur itu sampai habis tandas. Saya melongo sejenak. Gila nih cewek, kuat banget. Teman-temannya tertawa, dan sekalipun saya tidak tahu bahasa mereka, saya tahu bahwa mereka sedang mengatakan: “Ayo, Bapak, minum anggurnya sampai habis!” Saya agak ragu, dan memutuskan untuk tidak mencari masalah dengan meminum anggur itu sedikit demi sedikit saja. Baru juga dua detik saya berpikir begitu, saya angkat gelas di tangan saya dan saya teguk isinya sampai habis. “Horeee!” kata dia disambut tawa teman-temannya. Ritual yang sama diulang lagi dengan temannya yang lain setelah dia menuangkan lagi anggur ke gelas saya. Glek! Langsung saya terduduk dah, badan rasanya hangaaat dan kepala seperti melayang-layang . . . . Oh, no!

Kami berangkat pulang sekitar jam sepuluh malam. Di tengah perjalanan, ketika sedang berjuang mengatasi rasa pusing dan ngantuk karena ritual yang meriah tadi, sang lao shi datang ke kursi saya dan menyodorkan sesuatu di kantung plastik. “Have some pudding!” katanya, “ini buatanku sendiri”. Saya tidak kuasa menolak, dan mengambil puding itu dengan sendok dari dasar plastik. Sial, puding yang licin dan saya yang setengah mabuk itu membuat puding yang sudah saya ambil jatuh lagi ke dasar plastik. Jebur! Yah, terpaksa deh saya rogoh semua isi plastik itu dengan tangan. Kopros abiss! Yah, siapa suruh saya makan puding malam-malam di bis dalam keadaan setengah mabuk setelah acara “kam pei!”, ha ha haaa….

Kami sampai di kampus jam 12 malam pas. Agak pusing dan kepala berat, tapi sekeping pengalaman merayakan Imlek di tahun Naga itu pasti akan menjadi sepenggal kenangan yang berharga.

Gong Xi Fa Cai.

* Gan bei dibaca “kan pei”
* Jing jiu dibaca “cing ciu”.

Posted in: Uncategorized