Ramalan Nasib Tahun Naga di Xin Cia 2012

Posted on January 22, 2012

0


Menurut perhitungan nasib di tahun Naga Air, posisi yang menguntungkan adalah yang menghadap ke Barat. Wah, kalau begitu pas sudah saya bekerja di gedung Bhakti Persada, soalnya memang gerbangnya menghadap ke Barat. Makanya sebaiknya di depan Bhakti Persada ndak usah dibangun gedung baru, sebab itu bisa menghalangi aliran chi dari Gunung Kawi yang elok itu. Nah, ntar kalau saya udah pindah posisi atau pensiun atau ‘dibajak’ lembaga lain, silakan deh dibangun ruko atau mall sekalian disana, mwa ha haaa! Posisi lain juga bagus, katanya, kecuali Utara. Kenapa ya? Yah, namanya saja ramalan . . .

Tahun Naga Air juga akan diwarnai banyak banjir dimana-mana. Yiaaah . . . kalau ini mah ndak usah peramal feng shui. Rasanya dari tahun ke tahun memang begitu deh. Kenapa? Apakah karena naganya marah? Ndak juga; yang jelas karena ada makhluk lain yang lebih buas daripada naga, yaitu manusia sendiri. Karena ulahnya, hutan kota habis, hutan beton dibangun dimana-mana, plus buang sampah sembarangan sehingga gorong-gorong air mampet, sehingga terjadilah banjir dimana-mana. Berita terbaru yang mebuat prihatin adalah banjirnya jl. Bondowoso sampai satu meter minggu lalu.

“You are what you believe”

Sekalipun keturunan Tionghoa, ada seorang teman saya yang sudah tidak lagi percaya pada feng shui dan ramalan segala macam yang berakar dari budaya Tionghoa. “Kami sudah mengimani Kristus,” katanya memberi alasan. “Kristus itu jalan hidup satu-satunya, bla bla blaaa…”. Saya manggut-manggut. Fine! Iya deh, bagus.

Sebaliknya, ada sanak saudara saya yang Jawa asli, berpendidikan tinggi, dan penganut Katolik yang sangat taat. Suatu ketika dia tertarik pada ilmu feng shui, dan setelah dia dalami sedikit, dia jadi tambah tertarik dan merasa percaya. Maka dibelinya buku-buku feng shui, peta feng shui, ornamen pembawa angin baik segala macam. Akibatnya terciptalah suasana unik di rumahnya: cermin besar digantung di sebelah salib, dan di belakangnya ada kliningan beraksara Mandarin. Di ruang tamunya ada hiasan miniatur keris, blangkon dan gamelan. Rasanya seperti makan sayur pecel dicampur mustard dan minumannya adalah beras kencur campur vodka . . . . .

Rekan dari Eropa lain lagi sikapnya. Dia hanya percaya bahwa kesuksesan dan kegagalan ditentukan oleh logika manusia dan kerja kerasnya, tidak ada kekuatan lain lagi yang bisa mencampurinya. Maka alih-alih mendalami feng shui, keris, atau Kitab Suci, dia berbekal pada ilmu manajemen modern, kiat-kiat strategis, dan perencanaan jangka pendek maupun panjang.

Demikianlah, banyak tingkah manusia yang berkaitan dengan energi tak tampak ini. Sang Energi itu bisa seorang nabi, bisa berupa dewa, atau kekuatan alam gabungan dari api, tanah dan air, dan kekuatan pikiran manusia sendiri. Semuanya berkelindan membentuk mozaik sistem kepercayaan. Nah, kita mau mengambil yang mana?

Jangan-jangan kita belum punya kepercayaan.

Jangan-jangan kita sudah percaya pada satu hal, namun tergoda untuk mendalami kepercayaan yang lain karena nampaknya yang satu itu lebih menjanjikan kemakmuran ragawi.

Atau, jangan-jangan kita bingung sendiri . . .

Gong Xi Fa Chai!

Posted in: Uncategorized